Pagi itu itu Sasa berangkat kuliah dengan hati yang sangat berbunga-bunga. Gimana gak berbunga-bunga kalo hari itu beasiswa akan cair. Sasa sudah punya rencana segudang kalo uang beasiswa cair, dari beli alat make-up, baju, sepatu ampe handphone. Padahal uang beasiswanya juga gak seberapa.
Sasa mengemudikan sepedanya dengan santai, tiba-tiba Sasa ngeliat lampu merah di depannya warna ijo, Sasa aji mumpung dengan menaikkan kecepatannya biar nututi lampu ijonya. Di gasnya sepedanya kenceng-kenceng..weeeeeeengggg wenngggggg bunyinya, hampir lewat hampir lewat please jangan merah dulu Sasa berdoa dalam hati. Ketika jarak roda depan Sasa mencapa rasius 300 meter lampu sudah kedip-kedip kuning dan Sasa nekat menerobos dan hal yang ditakutkan terjadi
“prrrriiiiiT” suara peluit Pak Polisi memekakkan telinga
Sasa meminggirkan motornya sambil cemberut. Pak polisi datang kearah Sasa dan meminta kelengkapan surat Sasa. Sasa mengambil dompet di dalam tasnya dan mengeluarkan SIM A, SIM C, SIM B(supir truk kaleee), STNK, BPKB lengkap dah semua.
Sasa menyerahkan ke pak polisi dan kaget ngeliat tampangnya “wuuiiih, cakep bener”kata Sasa dalam hati.
“Adik sudah melanggar lampu merah, jadi saya tilang dengan terhormat ya”
“ye, Sasa kan Cuma ngelanggar dikit Mas, eh Pak, jadi diberi peringatan dulu dong” kata Sasa manja
“ya maka itu saya tilang dengan terhormat, kecuali..”
“kecuali apa?”Sasa Tanya bego
“kamu ngasih nomer HP kamu, heheheeeeee”
“ihh mas polisinya genit, ne nomer aku 085251555013, call me ya” Sasa ngarep “eh mas namanya sapa?”
“Ade, yaudah sana geh, aku mau bertugas dulu”
HHmmmm Sasa ketawa-ketiwi sendiri, ihiirrr mimpi apa ne aku semalem dapet polisi ganteng banget, wajahnya mirip artis korea yang maen di BBf itu lo, Lee Min Hoo,,ahhhh I Love U bangeet.
Di kampus Sasa ngutek-ngutekin hpnya, aduh mana sih Ade kok gak ngasih kabar juga, mana gak tau no hp nya lagi, Sasa bener-bener berharap.
“hayo, bengong aja”Rini sohib sekampusnya Sasa tiba-tiba nongol bikin Sasa kaget aja
“duh apaan sih Rin, ganggu aja, ne aku lagi nunggu sms dari sesorang juga”sahut Sasa BT berat
“duh, ampe segitunya, nunggu sms dari sapa tu?”
Pipi Sasa memerah, kemudian dia cerita “aduh Rin, tadi pagi aku kan ngelanggar lampu merah, udah gitu ditilang, tapi aku seneng banget deh…ternyata polisinya ganteng, kayak artis korea itu lo, dan dia minta no hp aku..kayaknya dia suka sama aku deh..aku kan cantik Rin.mimpi apa ya aku semalem”Sasa menepuk-nepuk pipinya
“halah, palingan juga polisi usil Sa, gitu aja dipikirin”sahut Rini enteng
“kamu se gak tau Rin, cara dia ngeliat aku tu seolah-olah hanya aku yang dia sukai Rin, apa jangan-jangan no hp ku kena hapus ya ama dia?hiks oh Nooo”
“gila lo Sa”Rini ngeloyor pergi
Sasa terus mikiri polisi itu, setiap dipertigaan Sasa sengaja menerobos lampu merah berharap ketemu lagi. Tapi tetep aja gak keliatan tu polisi cakep yang udah nilang hati Sasa. Mana setiap menerobos lampu merah eh jadi ijo lagi waktu Sasa lewat. Gimana bisa ditilang kalo gini.
Seminggu udah berlalu, Sasa udah lupa ama polisi itu, dan Sasa berangkat kekampus dengan santai, di pertigaan Sasa ngeliat Ade sedang menilang cewek seksi, cantik dengan gaya gombalnya
“mbak, kalau gak mau saya tilang, minta no hpnya dong”
Hahahahaaaaaaaa mohon maaf kalau tidak suka.cerita ini hanya fiktif belaka, bila ada kesamaan nama, wajah dan tingkah laku itu semata-mata hanya kebetulan saja.
Salam hangat
-chatyEdonanta-
Jumat, 17 Juni 2011
kepergian Rafi part 4 (last part)
Seuasana di ruang keluarga sunyi senyap bercampur tegang. Sarah dan Lukas saling menggenggam tangan. Pak Bram juga tidak bisa menahan kesedihannya, juga rasa ketakutannya. Sebenarnya dia takut kehilangan Rafi, anak yang sejak kecil diasuhnya, meskipun Rafi sangat bandel, nakal dan sombong. Bu Bram dan Rafi tiba di ruang keluarga dan duduk di kursi kosong. Tidak ada yang mau membuka percakapan. Lukas menatap Pak Bram seolah menyuruh Pak Bram yang menjelaskan. Sarah hanya diam dan cemas, Bu Bram kembali menyeka air matanya. Setelah sekian menit hening, akhirnya Pak Bram membuka percakapan.
“begini..”
Pak Bram mendesah sulit mengatakannya “Rafi, sebenarnya papa dan mamamu , ituu..”
“Rafi sudah tau”ucap Rafi lirih memotong perkataan papanya “om Lukas da kak Lia (Sarah)itu adalah orang tua kandung Rafi, Rafi mendengarnya semalem, terus kenapa?apa karena papa bukan orang tua kandung Rafi lantas papa mau menyuruh Rafi pergi dari sini?apa papa mau kalo Rafi tinggal ama mereka??”
“bukan gitu maksud kami Rafi”Sarah memotong perkataan Rafi
“kami sayang Rafi dan kami ingin yang terbaik buat kamu. Kakak Lia tau kalau Rafi gak pernah suka sama kakak, kakak gak bisa jadi ibu yang baik, kakak gak bisa memberikan apa yang Rafi pingin, kakak juga gak bisa menyekolahkan Rafi di SMP mahal, kakak gak bisa ngajak jalan-jalan Rafi waktu libur sekolah, kakak gak bisa bahagiain Rafi. Kakak Cuma seneng kalo Rafi bisa baik sama kakak, ceria waktu ketemu kakak..”air mata Sarah tumpah
“om gak mengharapkan Rafi mau ikut kami, dan om emang gak ada niatan buat gitu, om cuma seneng kalo Rafi tau kenyataannya. Apalagi Rafi mau memanggil kami mama dan papa seperti yang Rafi panggil ke Pak Bram dan Bu Bram, om tau Rafi kaget, begitu pun kami, kami gak akan mengambil Rafi Bu,Pak, Bapak dan Ibu sangat cocok untuk menjadi orang tua Rafi, Bapak dan Ibu juga sangat saying kepada Rafi, bagaimana bisa kami mengambil Rafi dari kalian”Lukas berusaha menahan air matanya
Rafi terisak-isak dipelukan Bu Bram.
****
Beberapa hari kemudian Lukas dan Sarah pamit. mereka berencana memulai kehidupan baru ditempat lain. Meskipun mereka masih tidak tau kemana, tetapi mereka yakin, kebahagiaan pasti akan datang. Bu Bram dan Pak Bram tidak bisa mencegah, mereka hanya bisa memberi sangu ala kadarnya tetapi langsung ditolak oleh Lukas, tetapi Pak Bram memaksa dan dengan terpaksa Lukas menerima. Sarah mencari=cari Rafi tetapi Rafi tetap saja tidak mengakui mereka orang tuanya. Sedih sekali Sarah dan Lukas, malah semenjak kejadian itu Rafi tidak mau bertegur sapa dengan Lukas dan Sarah. Hal itu yang membuat mereka pergi mencari suasana baru.
“Bu Rafi mana?”Sarah tetap saja mencari Rafi
“Gak tau Sarah, mungkin di kamarnya, mau Ibu panggilkan?”
“oh gak usah ibu, tolong bilangkan sampai kapanpun kami sayang Rafi”
“ia pasti saya sampaikan”
Setelah selesai pamitan Lukas dan Sarah beranjak pergi. Pak Bram dan Bu Bram mengantar kepergian mereka dengan derai air mata, begitu pula Sarah dan Lukas..Mereka berjalan pelan seakan-akan tidak mau meninggalkan kenangan-kenangan lama yang indah, Sarah sesekali melihat ke belakang. Lukas tersenyum pada Sarah dan mereka mulai berjalan pasti.
Tiba-tiba dari belakang seorang anak kecil berlari menghampiri mereka sambil berteriak “mamaaaaaaaaaaaaa,,papaaaaaaaaaaaa tunggguuuuuuuuuu”
Sarah berhenti berjalan, detak jantungnya berjalan keras, kebahagiaan menyelimuti wajahnya. Sarah menoleh,Lukas menoleh. Dilihatnya Rafi berlari menghambur ke pelukannya Sarah dan Lukas.
“ma…paa maafin Rafi maafin Rafi, jangan pergi, jangan pergi tanpa Rafi”
Lukas menatap Rafi tidak percaya, apalagi Sarah, tangannya menepuk lembut punggung Rafi yang berada di pelukannya, penuh sayang.
“Rafi mau ikut kalian”
Sarah menangis bahagia mereka bertiga berpelukan, sangat bahagia.
Bu Bram dan Pak Bram yang menyusul Rafi dari belakang juga sangat terkejut atas keputusan Rafi yang tiba-tiba. Bu Bram pingsan.
****
Lukas dan Sarah menunda kepergiannya, kini Bu Bram sudah sadar dari pingsannya. Rafi memeluk Bu Bram dengan sayang. Rafi mencintai kedua mamanya. Rafi bingung, Rafi gundah.Rafi ingin bersama keduanya. Rafi berjanji akan jadi anak baik asalkan keempat orang tuanya selalu ada disisinya.
Pak Bram meminta agar Lukas bekerja bersamanya di perkebunan, dan Sarah tetap sebagai guru ngaji. Sehingga mereka tidak kehilangan Rafi begitu pula sebaliknya. Setelah berunding dengan Sarah akhirnya mereka berdua setuju. Mereka menanggap hal itu adalah ide bagus. Bu Bram juga sangat bahagia begitu pula Rafi.
Kini mereka ber empat hidup bahagia. Kadang Rafi tinggal bersama mama papa Bram, kadang pula tinggal bersama mama Sarah dan papa Lukas. Ini menjadi sebuah keuntungan karena Rafi selalu mendapat uang saku doble. Rafi juga menepati janjinya dengan jadi anak baik dan tidak membeda-bedakan teman, sehingga sekarang teman Rafi ada banyak. Semua teman sangat menyukai Rafi karena Rafi gemar menolong. Yang Rafi paham sekarang adalah hidup itu bagaikan roda yang berputar, kadang ada di atas, kadang pula ada dibawah. Tinggal bagaimana kita mensyukurinya..
-chatyEdonanta-
“begini..”
Pak Bram mendesah sulit mengatakannya “Rafi, sebenarnya papa dan mamamu , ituu..”
“Rafi sudah tau”ucap Rafi lirih memotong perkataan papanya “om Lukas da kak Lia (Sarah)itu adalah orang tua kandung Rafi, Rafi mendengarnya semalem, terus kenapa?apa karena papa bukan orang tua kandung Rafi lantas papa mau menyuruh Rafi pergi dari sini?apa papa mau kalo Rafi tinggal ama mereka??”
“bukan gitu maksud kami Rafi”Sarah memotong perkataan Rafi
“kami sayang Rafi dan kami ingin yang terbaik buat kamu. Kakak Lia tau kalau Rafi gak pernah suka sama kakak, kakak gak bisa jadi ibu yang baik, kakak gak bisa memberikan apa yang Rafi pingin, kakak juga gak bisa menyekolahkan Rafi di SMP mahal, kakak gak bisa ngajak jalan-jalan Rafi waktu libur sekolah, kakak gak bisa bahagiain Rafi. Kakak Cuma seneng kalo Rafi bisa baik sama kakak, ceria waktu ketemu kakak..”air mata Sarah tumpah
“om gak mengharapkan Rafi mau ikut kami, dan om emang gak ada niatan buat gitu, om cuma seneng kalo Rafi tau kenyataannya. Apalagi Rafi mau memanggil kami mama dan papa seperti yang Rafi panggil ke Pak Bram dan Bu Bram, om tau Rafi kaget, begitu pun kami, kami gak akan mengambil Rafi Bu,Pak, Bapak dan Ibu sangat cocok untuk menjadi orang tua Rafi, Bapak dan Ibu juga sangat saying kepada Rafi, bagaimana bisa kami mengambil Rafi dari kalian”Lukas berusaha menahan air matanya
Rafi terisak-isak dipelukan Bu Bram.
****
Beberapa hari kemudian Lukas dan Sarah pamit. mereka berencana memulai kehidupan baru ditempat lain. Meskipun mereka masih tidak tau kemana, tetapi mereka yakin, kebahagiaan pasti akan datang. Bu Bram dan Pak Bram tidak bisa mencegah, mereka hanya bisa memberi sangu ala kadarnya tetapi langsung ditolak oleh Lukas, tetapi Pak Bram memaksa dan dengan terpaksa Lukas menerima. Sarah mencari=cari Rafi tetapi Rafi tetap saja tidak mengakui mereka orang tuanya. Sedih sekali Sarah dan Lukas, malah semenjak kejadian itu Rafi tidak mau bertegur sapa dengan Lukas dan Sarah. Hal itu yang membuat mereka pergi mencari suasana baru.
“Bu Rafi mana?”Sarah tetap saja mencari Rafi
“Gak tau Sarah, mungkin di kamarnya, mau Ibu panggilkan?”
“oh gak usah ibu, tolong bilangkan sampai kapanpun kami sayang Rafi”
“ia pasti saya sampaikan”
Setelah selesai pamitan Lukas dan Sarah beranjak pergi. Pak Bram dan Bu Bram mengantar kepergian mereka dengan derai air mata, begitu pula Sarah dan Lukas..Mereka berjalan pelan seakan-akan tidak mau meninggalkan kenangan-kenangan lama yang indah, Sarah sesekali melihat ke belakang. Lukas tersenyum pada Sarah dan mereka mulai berjalan pasti.
Tiba-tiba dari belakang seorang anak kecil berlari menghampiri mereka sambil berteriak “mamaaaaaaaaaaaaa,,papaaaaaaaaaaaa tunggguuuuuuuuuu”
Sarah berhenti berjalan, detak jantungnya berjalan keras, kebahagiaan menyelimuti wajahnya. Sarah menoleh,Lukas menoleh. Dilihatnya Rafi berlari menghambur ke pelukannya Sarah dan Lukas.
“ma…paa maafin Rafi maafin Rafi, jangan pergi, jangan pergi tanpa Rafi”
Lukas menatap Rafi tidak percaya, apalagi Sarah, tangannya menepuk lembut punggung Rafi yang berada di pelukannya, penuh sayang.
“Rafi mau ikut kalian”
Sarah menangis bahagia mereka bertiga berpelukan, sangat bahagia.
Bu Bram dan Pak Bram yang menyusul Rafi dari belakang juga sangat terkejut atas keputusan Rafi yang tiba-tiba. Bu Bram pingsan.
****
Lukas dan Sarah menunda kepergiannya, kini Bu Bram sudah sadar dari pingsannya. Rafi memeluk Bu Bram dengan sayang. Rafi mencintai kedua mamanya. Rafi bingung, Rafi gundah.Rafi ingin bersama keduanya. Rafi berjanji akan jadi anak baik asalkan keempat orang tuanya selalu ada disisinya.
Pak Bram meminta agar Lukas bekerja bersamanya di perkebunan, dan Sarah tetap sebagai guru ngaji. Sehingga mereka tidak kehilangan Rafi begitu pula sebaliknya. Setelah berunding dengan Sarah akhirnya mereka berdua setuju. Mereka menanggap hal itu adalah ide bagus. Bu Bram juga sangat bahagia begitu pula Rafi.
Kini mereka ber empat hidup bahagia. Kadang Rafi tinggal bersama mama papa Bram, kadang pula tinggal bersama mama Sarah dan papa Lukas. Ini menjadi sebuah keuntungan karena Rafi selalu mendapat uang saku doble. Rafi juga menepati janjinya dengan jadi anak baik dan tidak membeda-bedakan teman, sehingga sekarang teman Rafi ada banyak. Semua teman sangat menyukai Rafi karena Rafi gemar menolong. Yang Rafi paham sekarang adalah hidup itu bagaikan roda yang berputar, kadang ada di atas, kadang pula ada dibawah. Tinggal bagaimana kita mensyukurinya..
-chatyEdonanta-
kepergian Rafi part 3
Paginya saat Bu Bram telah menunaikan sholat Subuh dilihatnya kamar Lukas terbuka sedikit. Bu Bram mengira Lukas sudah bangun dan hendak menyapanya. Ketika Bu Bram membuka pintu Lukas sudah tidak ada di kamar. Bu Bram mengira Lukas berada dikamar mandi. Bu Bram mencari ke kamar mandi ternyata juga tidak ada. Di cari-carinya sosok Lukas kemana-mana tetap tidak ada. Sampai putus asa Bu Bram mencarinya dan berteriak “Pa, papa,,Lukas gak ada pa!”
Pak Bram yang berada di samping rumah sedang enak-enak memberi makan burung spontan menuju ke tempat Bu Bram teriak-teriak “ada apa to ma, pagi-pagi kok ribut”
“Lukas pa, udah gak ada”
“Inalillahi”
“bukan pa, maksud mama gak ada dikamarnya”
“mungkin ke kamar mandi ma”
“gak ada”
“jalan-jalan kali ma”
“moga saja”
Tiba-tiba Lukas berada di ambang pintu, sambil terengah-engah Lukas berkata “saya…saya…sudah menemukan Sarah”
****
Lukas memikirkan bagaimana cara membalas perbuatan keji Junaidi. Setelah kejadian di terminal dimana Sarah di bawa paksa oleh Junaidi dendam Lukas semakin besar. Lukas memutuskan untuk mengintai dan dengan dibantu teman-teman sekampung yang juga benci dengan Junaidi Lukas menjalankan aksinya
Mobil Junaidi Lukas bongkar kampes rem nya sehingga blong, dan ketika sedang melaksanakan aksinya tiba-tiba Junaidi datang dan masuk ke dalam mobil. Agar tidak ketahuan Lukas memutuskan untuk ikut masuk dan bersembunyi ke dalam jok belakang mobil.
Meskipun hal itu sangat beresiko karena dapat membahayakan nyawa Lukas sendiri, Lukas tidak ambil peduli, Lukas berdoa agar misinya berhasil.
Di tengah jalan Junaidi mengangkut seseorang bertampang preman, bentuk tubuhnya persis seperti bentuk tubuh Lukas. Junaidi dan preman itu berbicara tentang ganja dan lain sebagainya yang membikin Lukas semakin geram..
Mobil terus melaju kencang, alunan musik bersuara keras berdentam-dentam, Junaidi dan preman itu terus menerus mengoceh , tepat di sebuah tikungan tajam dan turunan mobil yang dinaiki ke 3 orang tersebut tidak bisa mengendalikan dan terpeleset jatuh menuruni tebing curam.
Junaidi kaget dan mereka berteriak “aaaaaaaaaaaa, tidaaaaaaak, ohh shiiitt”
Sementara Lukas seperti tersihir Lukas membuka pintu mobil dan meloncat serta menyaksikan dentuman dahsyat kehancuran mobil tepat di bawah jurang.
“duuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrr” Mobil tersebut meledak dahsyat dan hancur tak bersisa, Asap mengepul hitam di awan.
Lukas menyaksikan peristiwa itu dengan perih,bahkan Lukas tidak bisa tersenyum atau bersedih. Lukas terlalu takut untuk itu.Lukas takut kalau sampe polisi tau Lukas bakal di penjara. Pikiran Lukas berkecamuk dan Lukas sangat takut untuk menampakkan wajahnya. Lukas telah membunuh 2 nyawa. Lukas merasa sangat hina.
*****
Bu Bram dan Pak Bram menatap Lukas yang nafasnya masih tersengal-sengal, kelihatannya ia berlari untuk memberitahukan kabar yang sangat bahagia, bahagia bagi Lukas, karena mereka sebenarnya sudah tau keberadaan Sarah. Sarah guru ngaji Rafi, Sarah atau Kak Lia. Sarah yang berhati besar yang dengan rela hanya mampu menatap anak kandungnya dari jauh, Sarah yang tidak mampu mengaku pada Rafi bahwa dia ibu kandungnya. Sarah yang hanya ingin kebahagiaan Rafi, tanpa memikirkan perasaannya sendiri. Sarah yang sadar diri bahwa dengan Pak Bram dan Bu Bram segala sesuatu dan keinginan Rafi bisa terpenuhi.
“dimana kamu bertemu Sarah Lukas, kami mencari mu kemana-mana? Kata Bu Bram
“maaf Bu, tapi saya terbangun dini hari dan tidak bisa tidur, jadi saya memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sambil menunggu pagi sambil mengingat-ingat masa lalu, dan ketika saya hendak kembali kesini saya melihat seorang yang telah lama saya rindukan sedang menyapu di sebuah surau. Saya tertegun Bu, saya ingin menghampirinya tetapi langkah saya beku, saya ingin mengucapkan namanya tetapi lidah saya kelu. Dan entah mengapa saya hanya bisa berlari kesini” Lukas berkata tanpa jeda
“Tenangkanlah dirimu Lukas, mari kita sarapan terlebih dahulu, setelah itu mari kita juga mengajak Rafi menemui Sarah, semua ini harus jelas”tukas Pak Bram
“tapi pa”sahut Bu Bram sedih
“sabar ma…”
Bu Bram membangunkan Rafi dan mereka makan pagi bersama. Lukas makan dengan sangat cepat seolah-olah Sarah akan pergi sekarang juga. Rafi heran kenapa dirinya diijinkan membolos sekolah, padahal dia tidak sakit dan juga tidak ada acara keluarga, tetapi Rafi hanya menurut.
Setelah makan Bu Bram mengutus seorang pesuruh memanggil Sarah kerumahnya.. Lukas sangat gelisah, tetapi tak hanya Lukas, Bu Bram dan Pak Bram juga ikut gelisah. Yang kelihatan santai hanya Rafi, dia sedang asyik menegak habis susunya.
Mereka tidak perlu menunggu lama karena Sarah langsung datang. Sarah masuk ke rumah dengan mengucapkan salam. Ketika melihat Lukas Sarah langsung terdiam.Lukas terdiam. Bu Bram dan Pak Bram terdiam. Rafi bengong
********
Lukas melihat polisi dan paparazzi berdatangan, Lukas merasa dirinya dicekam ketakutan yang luar biasa. Lukas memutuskan untuk menyembunyikan dirinya dahulu. Lukas berencana setelah keadaan aman Lukas akan keluar dari tempat persembunyian. Esoknya Lukas melihat di berita bahwa seorang lintah darat bernama Junaidi dan buruh perkebunan bernama Lukas meninggal sangat mengenaskan karena kecelakaan masuk jurang, mobilnya hangus terbakar dan jasadnya tidak dikenali.
Lukas sangat kaget dan serta merta berlari pulang. Di rumahnya terdapat bendera-bendera duka..Lukas kehilangan akal. Dia bagaikan makan buah simalakama. Jika Lukas menampakkan bahwa dirinya masih hidup maka Lukas akan di penjara, tetapi jika Lukas terus bersembunyi, Lukas tidak tega meninggalkan kedua orang tuanya dan juga Sarah.
Tetapi hidup adalah sebuah pilihan. Dan Lukas memutuskan untuk pergi sementara dari kehidupannya. Lukas bekerja di pelayaran dan berlayar selama bertahun-tahun. Setelah di pecat dari pelayaran karena diduga kasus suap, hidup Lukas menjadi tidak jelas. Lukas bergabung bersama preman-preman dan para gangster-gengster hingga sekarang.
***********
Beberapa menit mereka berdiri terdiam membisu, Sarah menatap Lukas tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia heran,bingung harus senang, sedih atau gembira. Bibirnya terdiam tak mampu berkata-kata. Hanya air mata yang mengalir pelan di pipinya. Lukas tidak tinggal diam, langsung dibawanya Sarah kedalam pelukannya, Air mata yang mengalir pelan di pipi Sarah menjadi isakan tangis “mas..mas Lukas,,bagaimana bisa?”
“ia Sarah, aku disini, aku masih hidup, maafkan aku Sarah, aku mohon maafkan aku”jawab Lukas sedih
“engga mas, mas gak salah, aku Cuma kangen sama mas”
“ia Sarah, maafkan aku”mereka berdua saling terisak-isak tak terkecuali Bu Bram yang juga meneteskan air mata. Pak Bram hanya bisa menghela nafas pendek dan juga ikut larut dalam kesedihan mereka. Rafi mencoba menerka-nerka apa yang terjadi tetapi masih tidak mengerti. Seketika itu dia ingat ucapan yang didengar tadi malam. Rafi takut sekarang, benar-benar takut akan terjadi hal yang tidak dia inginkan. Rafi pergi kekamarnya dan mengurung diri disana.
Setelah puas memeluk Sarah kini mereka semua berkumpul diruang keluarga. Lukas menceritakan kisahnya dengan terbata-bata dan mata berkaca-kaca hingga tuntas ditemani jemari halus Sarah yang menggenggam lembut tangan Lukas. Sarah, Pak Bram dan Bu Bram mendengar dengan seksama sambil bersimpati dengan kejadian yang menimpa Lukas. Setelah Lukas selesai bercerita Sarah bertanya pelan “mas, apa kamu sudah tau anak kita dimana?
“ia Sarah, anak kita itu Rafi, Bu Bram dan Pak Bram sudah menceritakannya padaku kemaren, aku tidak apa-apa jika Rafi tidak mengenali aku sebagai Ayahnya, bukan aku tidak mau menjadi ayah Rafi, tapi aku merasa tidak pantas sebagai seorang Ayah, Bu Bram dan Pak Bram sudah sangat baik mau merawat Rafi” Lukas berkata bijak
“ia mas aku juga sependapat, mari kita mulai kehidupan yang baru”sahut Sarah
Bu Bram merasa sedih dan miris sekali mendengar ucapan mereka berdua. Pak Bram menatap Bu Bram membujuk istrinya agar mereka jujur saja pada Rafi. Bu Bram mengangguk tanda setuju. Pak Bram meremas tangan Bu Bram seakan mengerti kesedihan hati istrinya. Bu Bram mencoba tersenyum sambil pergi memanggil Rafi.
Pintu kamar Rafi terkunci, Bu Bram mengetuk berulang-ulang tetapi tidak ada sahutan. Bu Bram terus mnggedor-gedor pintu kamar Rafi “Rafi..Rafi, ayo keluar nak, ada yang mau mama bicarakan sama kamu, ayo Rafi”
“engga mau, Rafi tau apa yang mau mama bicarain”terdengar suara Rafi tersedu-sedu dari dalam kamar”
“Emang mama mau bicarain apa kok kamu sudah tau, ayo keluar jangan sampe papa kamu marah”kata mama Rafi cemas
Rafi keluar kamar dengan terpaksa, mukanya ditekuk, matanya sembab, Bu Bram menggandeng Rafi ke ruang keluarga, dan langkahnya terhenti saat Rafi berkata dengan menahan air matanya “mah…jang ngan bilang, kal lo Rafi bukan anak mama, jang-ngan bil lang juga kalo Rafi bukan anak papah” Bu Bram menatap Rafi dan air matanya tumpah, Bu Bram tidak bisa menyembunyikan kesedihannya
“Rafi dengar, sampai kapanpun Rafi anak mama, sampai kapanpun mama sayang Rafi’’ ucap Bu Bram sambil memeluk Rafi. Mereka berdua menangis sesenggukan beberapa saat. Setelah puas Bu Bram menghapus air matanya dan menghapus air mata Rafi. Dengan langkah tegar mereka berjalan menuju ruang keluarga
Pak Bram yang berada di samping rumah sedang enak-enak memberi makan burung spontan menuju ke tempat Bu Bram teriak-teriak “ada apa to ma, pagi-pagi kok ribut”
“Lukas pa, udah gak ada”
“Inalillahi”
“bukan pa, maksud mama gak ada dikamarnya”
“mungkin ke kamar mandi ma”
“gak ada”
“jalan-jalan kali ma”
“moga saja”
Tiba-tiba Lukas berada di ambang pintu, sambil terengah-engah Lukas berkata “saya…saya…sudah menemukan Sarah”
****
Lukas memikirkan bagaimana cara membalas perbuatan keji Junaidi. Setelah kejadian di terminal dimana Sarah di bawa paksa oleh Junaidi dendam Lukas semakin besar. Lukas memutuskan untuk mengintai dan dengan dibantu teman-teman sekampung yang juga benci dengan Junaidi Lukas menjalankan aksinya
Mobil Junaidi Lukas bongkar kampes rem nya sehingga blong, dan ketika sedang melaksanakan aksinya tiba-tiba Junaidi datang dan masuk ke dalam mobil. Agar tidak ketahuan Lukas memutuskan untuk ikut masuk dan bersembunyi ke dalam jok belakang mobil.
Meskipun hal itu sangat beresiko karena dapat membahayakan nyawa Lukas sendiri, Lukas tidak ambil peduli, Lukas berdoa agar misinya berhasil.
Di tengah jalan Junaidi mengangkut seseorang bertampang preman, bentuk tubuhnya persis seperti bentuk tubuh Lukas. Junaidi dan preman itu berbicara tentang ganja dan lain sebagainya yang membikin Lukas semakin geram..
Mobil terus melaju kencang, alunan musik bersuara keras berdentam-dentam, Junaidi dan preman itu terus menerus mengoceh , tepat di sebuah tikungan tajam dan turunan mobil yang dinaiki ke 3 orang tersebut tidak bisa mengendalikan dan terpeleset jatuh menuruni tebing curam.
Junaidi kaget dan mereka berteriak “aaaaaaaaaaaa, tidaaaaaaak, ohh shiiitt”
Sementara Lukas seperti tersihir Lukas membuka pintu mobil dan meloncat serta menyaksikan dentuman dahsyat kehancuran mobil tepat di bawah jurang.
“duuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrr” Mobil tersebut meledak dahsyat dan hancur tak bersisa, Asap mengepul hitam di awan.
Lukas menyaksikan peristiwa itu dengan perih,bahkan Lukas tidak bisa tersenyum atau bersedih. Lukas terlalu takut untuk itu.Lukas takut kalau sampe polisi tau Lukas bakal di penjara. Pikiran Lukas berkecamuk dan Lukas sangat takut untuk menampakkan wajahnya. Lukas telah membunuh 2 nyawa. Lukas merasa sangat hina.
*****
Bu Bram dan Pak Bram menatap Lukas yang nafasnya masih tersengal-sengal, kelihatannya ia berlari untuk memberitahukan kabar yang sangat bahagia, bahagia bagi Lukas, karena mereka sebenarnya sudah tau keberadaan Sarah. Sarah guru ngaji Rafi, Sarah atau Kak Lia. Sarah yang berhati besar yang dengan rela hanya mampu menatap anak kandungnya dari jauh, Sarah yang tidak mampu mengaku pada Rafi bahwa dia ibu kandungnya. Sarah yang hanya ingin kebahagiaan Rafi, tanpa memikirkan perasaannya sendiri. Sarah yang sadar diri bahwa dengan Pak Bram dan Bu Bram segala sesuatu dan keinginan Rafi bisa terpenuhi.
“dimana kamu bertemu Sarah Lukas, kami mencari mu kemana-mana? Kata Bu Bram
“maaf Bu, tapi saya terbangun dini hari dan tidak bisa tidur, jadi saya memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sambil menunggu pagi sambil mengingat-ingat masa lalu, dan ketika saya hendak kembali kesini saya melihat seorang yang telah lama saya rindukan sedang menyapu di sebuah surau. Saya tertegun Bu, saya ingin menghampirinya tetapi langkah saya beku, saya ingin mengucapkan namanya tetapi lidah saya kelu. Dan entah mengapa saya hanya bisa berlari kesini” Lukas berkata tanpa jeda
“Tenangkanlah dirimu Lukas, mari kita sarapan terlebih dahulu, setelah itu mari kita juga mengajak Rafi menemui Sarah, semua ini harus jelas”tukas Pak Bram
“tapi pa”sahut Bu Bram sedih
“sabar ma…”
Bu Bram membangunkan Rafi dan mereka makan pagi bersama. Lukas makan dengan sangat cepat seolah-olah Sarah akan pergi sekarang juga. Rafi heran kenapa dirinya diijinkan membolos sekolah, padahal dia tidak sakit dan juga tidak ada acara keluarga, tetapi Rafi hanya menurut.
Setelah makan Bu Bram mengutus seorang pesuruh memanggil Sarah kerumahnya.. Lukas sangat gelisah, tetapi tak hanya Lukas, Bu Bram dan Pak Bram juga ikut gelisah. Yang kelihatan santai hanya Rafi, dia sedang asyik menegak habis susunya.
Mereka tidak perlu menunggu lama karena Sarah langsung datang. Sarah masuk ke rumah dengan mengucapkan salam. Ketika melihat Lukas Sarah langsung terdiam.Lukas terdiam. Bu Bram dan Pak Bram terdiam. Rafi bengong
********
Lukas melihat polisi dan paparazzi berdatangan, Lukas merasa dirinya dicekam ketakutan yang luar biasa. Lukas memutuskan untuk menyembunyikan dirinya dahulu. Lukas berencana setelah keadaan aman Lukas akan keluar dari tempat persembunyian. Esoknya Lukas melihat di berita bahwa seorang lintah darat bernama Junaidi dan buruh perkebunan bernama Lukas meninggal sangat mengenaskan karena kecelakaan masuk jurang, mobilnya hangus terbakar dan jasadnya tidak dikenali.
Lukas sangat kaget dan serta merta berlari pulang. Di rumahnya terdapat bendera-bendera duka..Lukas kehilangan akal. Dia bagaikan makan buah simalakama. Jika Lukas menampakkan bahwa dirinya masih hidup maka Lukas akan di penjara, tetapi jika Lukas terus bersembunyi, Lukas tidak tega meninggalkan kedua orang tuanya dan juga Sarah.
Tetapi hidup adalah sebuah pilihan. Dan Lukas memutuskan untuk pergi sementara dari kehidupannya. Lukas bekerja di pelayaran dan berlayar selama bertahun-tahun. Setelah di pecat dari pelayaran karena diduga kasus suap, hidup Lukas menjadi tidak jelas. Lukas bergabung bersama preman-preman dan para gangster-gengster hingga sekarang.
***********
Beberapa menit mereka berdiri terdiam membisu, Sarah menatap Lukas tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia heran,bingung harus senang, sedih atau gembira. Bibirnya terdiam tak mampu berkata-kata. Hanya air mata yang mengalir pelan di pipinya. Lukas tidak tinggal diam, langsung dibawanya Sarah kedalam pelukannya, Air mata yang mengalir pelan di pipi Sarah menjadi isakan tangis “mas..mas Lukas,,bagaimana bisa?”
“ia Sarah, aku disini, aku masih hidup, maafkan aku Sarah, aku mohon maafkan aku”jawab Lukas sedih
“engga mas, mas gak salah, aku Cuma kangen sama mas”
“ia Sarah, maafkan aku”mereka berdua saling terisak-isak tak terkecuali Bu Bram yang juga meneteskan air mata. Pak Bram hanya bisa menghela nafas pendek dan juga ikut larut dalam kesedihan mereka. Rafi mencoba menerka-nerka apa yang terjadi tetapi masih tidak mengerti. Seketika itu dia ingat ucapan yang didengar tadi malam. Rafi takut sekarang, benar-benar takut akan terjadi hal yang tidak dia inginkan. Rafi pergi kekamarnya dan mengurung diri disana.
Setelah puas memeluk Sarah kini mereka semua berkumpul diruang keluarga. Lukas menceritakan kisahnya dengan terbata-bata dan mata berkaca-kaca hingga tuntas ditemani jemari halus Sarah yang menggenggam lembut tangan Lukas. Sarah, Pak Bram dan Bu Bram mendengar dengan seksama sambil bersimpati dengan kejadian yang menimpa Lukas. Setelah Lukas selesai bercerita Sarah bertanya pelan “mas, apa kamu sudah tau anak kita dimana?
“ia Sarah, anak kita itu Rafi, Bu Bram dan Pak Bram sudah menceritakannya padaku kemaren, aku tidak apa-apa jika Rafi tidak mengenali aku sebagai Ayahnya, bukan aku tidak mau menjadi ayah Rafi, tapi aku merasa tidak pantas sebagai seorang Ayah, Bu Bram dan Pak Bram sudah sangat baik mau merawat Rafi” Lukas berkata bijak
“ia mas aku juga sependapat, mari kita mulai kehidupan yang baru”sahut Sarah
Bu Bram merasa sedih dan miris sekali mendengar ucapan mereka berdua. Pak Bram menatap Bu Bram membujuk istrinya agar mereka jujur saja pada Rafi. Bu Bram mengangguk tanda setuju. Pak Bram meremas tangan Bu Bram seakan mengerti kesedihan hati istrinya. Bu Bram mencoba tersenyum sambil pergi memanggil Rafi.
Pintu kamar Rafi terkunci, Bu Bram mengetuk berulang-ulang tetapi tidak ada sahutan. Bu Bram terus mnggedor-gedor pintu kamar Rafi “Rafi..Rafi, ayo keluar nak, ada yang mau mama bicarakan sama kamu, ayo Rafi”
“engga mau, Rafi tau apa yang mau mama bicarain”terdengar suara Rafi tersedu-sedu dari dalam kamar”
“Emang mama mau bicarain apa kok kamu sudah tau, ayo keluar jangan sampe papa kamu marah”kata mama Rafi cemas
Rafi keluar kamar dengan terpaksa, mukanya ditekuk, matanya sembab, Bu Bram menggandeng Rafi ke ruang keluarga, dan langkahnya terhenti saat Rafi berkata dengan menahan air matanya “mah…jang ngan bilang, kal lo Rafi bukan anak mama, jang-ngan bil lang juga kalo Rafi bukan anak papah” Bu Bram menatap Rafi dan air matanya tumpah, Bu Bram tidak bisa menyembunyikan kesedihannya
“Rafi dengar, sampai kapanpun Rafi anak mama, sampai kapanpun mama sayang Rafi’’ ucap Bu Bram sambil memeluk Rafi. Mereka berdua menangis sesenggukan beberapa saat. Setelah puas Bu Bram menghapus air matanya dan menghapus air mata Rafi. Dengan langkah tegar mereka berjalan menuju ruang keluarga
kepergian Rafi part 3
Paginya saat Bu Bram telah menunaikan sholat Subuh dilihatnya kamar Lukas terbuka sedikit. Bu Bram mengira Lukas sudah bangun dan hendak menyapanya. Ketika Bu Bram membuka pintu Lukas sudah tidak ada di kamar. Bu Bram mengira Lukas berada dikamar mandi. Bu Bram mencari ke kamar mandi ternyata juga tidak ada. Di cari-carinya sosok Lukas kemana-mana tetap tidak ada. Sampai putus asa Bu Bram mencarinya dan berteriak “Pa, papa,,Lukas gak ada pa!”
Pak Bram yang berada di samping rumah sedang enak-enak memberi makan burung spontan menuju ke tempat Bu Bram teriak-teriak “ada apa to ma, pagi-pagi kok ribut”
“Lukas pa, udah gak ada”
“Inalillahi”
“bukan pa, maksud mama gak ada dikamarnya”
“mungkin ke kamar mandi ma”
“gak ada”
“jalan-jalan kali ma”
“moga saja”
Tiba-tiba Lukas berada di ambang pintu, sambil terengah-engah Lukas berkata “saya…saya…sudah menemukan Sarah”
****
Lukas memikirkan bagaimana cara membalas perbuatan keji Junaidi. Setelah kejadian di terminal dimana Sarah di bawa paksa oleh Junaidi dendam Lukas semakin besar. Lukas memutuskan untuk mengintai dan dengan dibantu teman-teman sekampung yang juga benci dengan Junaidi Lukas menjalankan aksinya
Mobil Junaidi Lukas bongkar kampes rem nya sehingga blong, dan ketika sedang melaksanakan aksinya tiba-tiba Junaidi datang dan masuk ke dalam mobil. Agar tidak ketahuan Lukas memutuskan untuk ikut masuk dan bersembunyi ke dalam jok belakang mobil.
Meskipun hal itu sangat beresiko karena dapat membahayakan nyawa Lukas sendiri, Lukas tidak ambil peduli, Lukas berdoa agar misinya berhasil.
Di tengah jalan Junaidi mengangkut seseorang bertampang preman, bentuk tubuhnya persis seperti bentuk tubuh Lukas. Junaidi dan preman itu berbicara tentang ganja dan lain sebagainya yang membikin Lukas semakin geram..
Mobil terus melaju kencang, alunan musik bersuara keras berdentam-dentam, Junaidi dan preman itu terus menerus mengoceh , tepat di sebuah tikungan tajam dan turunan mobil yang dinaiki ke 3 orang tersebut tidak bisa mengendalikan dan terpeleset jatuh menuruni tebing curam.
Junaidi kaget dan mereka berteriak “aaaaaaaaaaaa, tidaaaaaaak, ohh shiiitt”
Sementara Lukas seperti tersihir Lukas membuka pintu mobil dan meloncat serta menyaksikan dentuman dahsyat kehancuran mobil tepat di bawah jurang.
“duuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrr” Mobil tersebut meledak dahsyat dan hancur tak bersisa, Asap mengepul hitam di awan.
Lukas menyaksikan peristiwa itu dengan perih,bahkan Lukas tidak bisa tersenyum atau bersedih. Lukas terlalu takut untuk itu.Lukas takut kalau sampe polisi tau Lukas bakal di penjara. Pikiran Lukas berkecamuk dan Lukas sangat takut untuk menampakkan wajahnya. Lukas telah membunuh 2 nyawa. Lukas merasa sangat hina.
*****
Bu Bram dan Pak Bram menatap Lukas yang nafasnya masih tersengal-sengal, kelihatannya ia berlari untuk memberitahukan kabar yang sangat bahagia, bahagia bagi Lukas, karena mereka sebenarnya sudah tau keberadaan Sarah. Sarah guru ngaji Rafi, Sarah atau Kak Lia. Sarah yang berhati besar yang dengan rela hanya mampu menatap anak kandungnya dari jauh, Sarah yang tidak mampu mengaku pada Rafi bahwa dia ibu kandungnya. Sarah yang hanya ingin kebahagiaan Rafi, tanpa memikirkan perasaannya sendiri. Sarah yang sadar diri bahwa dengan Pak Bram dan Bu Bram segala sesuatu dan keinginan Rafi bisa terpenuhi.
“dimana kamu bertemu Sarah Lukas, kami mencari mu kemana-mana? Kata Bu Bram
“maaf Bu, tapi saya terbangun dini hari dan tidak bisa tidur, jadi saya memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sambil menunggu pagi sambil mengingat-ingat masa lalu, dan ketika saya hendak kembali kesini saya melihat seorang yang telah lama saya rindukan sedang menyapu di sebuah surau. Saya tertegun Bu, saya ingin menghampirinya tetapi langkah saya beku, saya ingin mengucapkan namanya tetapi lidah saya kelu. Dan entah mengapa saya hanya bisa berlari kesini” Lukas berkata tanpa jeda
“Tenangkanlah dirimu Lukas, mari kita sarapan terlebih dahulu, setelah itu mari kita juga mengajak Rafi menemui Sarah, semua ini harus jelas”tukas Pak Bram
“tapi pa”sahut Bu Bram sedih
“sabar ma…”
Bu Bram membangunkan Rafi dan mereka makan pagi bersama. Lukas makan dengan sangat cepat seolah-olah Sarah akan pergi sekarang juga. Rafi heran kenapa dirinya diijinkan membolos sekolah, padahal dia tidak sakit dan juga tidak ada acara keluarga, tetapi Rafi hanya menurut.
Setelah makan Bu Bram mengutus seorang pesuruh memanggil Sarah kerumahnya.. Lukas sangat gelisah, tetapi tak hanya Lukas, Bu Bram dan Pak Bram juga ikut gelisah. Yang kelihatan santai hanya Rafi, dia sedang asyik menegak habis susunya.
Mereka tidak perlu menunggu lama karena Sarah langsung datang. Sarah masuk ke rumah dengan mengucapkan salam. Ketika melihat Lukas Sarah langsung terdiam.Lukas terdiam. Bu Bram dan Pak Bram terdiam. Rafi bengong
********
Lukas melihat polisi dan paparazzi berdatangan, Lukas merasa dirinya dicekam ketakutan yang luar biasa. Lukas memutuskan untuk menyembunyikan dirinya dahulu. Lukas berencana setelah keadaan aman Lukas akan keluar dari tempat persembunyian. Esoknya Lukas melihat di berita bahwa seorang lintah darat bernama Junaidi dan buruh perkebunan bernama Lukas meninggal sangat mengenaskan karena kecelakaan masuk jurang, mobilnya hangus terbakar dan jasadnya tidak dikenali.
Lukas sangat kaget dan serta merta berlari pulang. Di rumahnya terdapat bendera-bendera duka..Lukas kehilangan akal. Dia bagaikan makan buah simalakama. Jika Lukas menampakkan bahwa dirinya masih hidup maka Lukas akan di penjara, tetapi jika Lukas terus bersembunyi, Lukas tidak tega meninggalkan kedua orang tuanya dan juga Sarah.
Tetapi hidup adalah sebuah pilihan. Dan Lukas memutuskan untuk pergi sementara dari kehidupannya. Lukas bekerja di pelayaran dan berlayar selama bertahun-tahun. Setelah di pecat dari pelayaran karena diduga kasus suap, hidup Lukas menjadi tidak jelas. Lukas bergabung bersama preman-preman dan para gangster-gengster hingga sekarang.
***********
Beberapa menit mereka berdiri terdiam membisu, Sarah menatap Lukas tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia heran,bingung harus senang, sedih atau gembira. Bibirnya terdiam tak mampu berkata-kata. Hanya air mata yang mengalir pelan di pipinya. Lukas tidak tinggal diam, langsung dibawanya Sarah kedalam pelukannya, Air mata yang mengalir pelan di pipi Sarah menjadi isakan tangis “mas..mas Lukas,,bagaimana bisa?”
“ia Sarah, aku disini, aku masih hidup, maafkan aku Sarah, aku mohon maafkan aku”jawab Lukas sedih
“engga mas, mas gak salah, aku Cuma kangen sama mas”
“ia Sarah, maafkan aku”mereka berdua saling terisak-isak tak terkecuali Bu Bram yang juga meneteskan air mata. Pak Bram hanya bisa menghela nafas pendek dan juga ikut larut dalam kesedihan mereka. Rafi mencoba menerka-nerka apa yang terjadi tetapi masih tidak mengerti. Seketika itu dia ingat ucapan yang didengar tadi malam. Rafi takut sekarang, benar-benar takut akan terjadi hal yang tidak dia inginkan. Rafi pergi kekamarnya dan mengurung diri disana.
Setelah puas memeluk Sarah kini mereka semua berkumpul diruang keluarga. Lukas menceritakan kisahnya dengan terbata-bata dan mata berkaca-kaca hingga tuntas ditemani jemari halus Sarah yang menggenggam lembut tangan Lukas. Sarah, Pak Bram dan Bu Bram mendengar dengan seksama sambil bersimpati dengan kejadian yang menimpa Lukas. Setelah Lukas selesai bercerita Sarah bertanya pelan “mas, apa kamu sudah tau anak kita dimana?
“ia Sarah, anak kita itu Rafi, Bu Bram dan Pak Bram sudah menceritakannya padaku kemaren, aku tidak apa-apa jika Rafi tidak mengenali aku sebagai Ayahnya, bukan aku tidak mau menjadi ayah Rafi, tapi aku merasa tidak pantas sebagai seorang Ayah, Bu Bram dan Pak Bram sudah sangat baik mau merawat Rafi” Lukas berkata bijak
“ia mas aku juga sependapat, mari kita mulai kehidupan yang baru”sahut Sarah
Bu Bram merasa sedih dan miris sekali mendengar ucapan mereka berdua. Pak Bram menatap Bu Bram membujuk istrinya agar mereka jujur saja pada Rafi. Bu Bram mengangguk tanda setuju. Pak Bram meremas tangan Bu Bram seakan mengerti kesedihan hati istrinya. Bu Bram mencoba tersenyum sambil pergi memanggil Rafi.
Pintu kamar Rafi terkunci, Bu Bram mengetuk berulang-ulang tetapi tidak ada sahutan. Bu Bram terus mnggedor-gedor pintu kamar Rafi “Rafi..Rafi, ayo keluar nak, ada yang mau mama bicarakan sama kamu, ayo Rafi”
“engga mau, Rafi tau apa yang mau mama bicarain”terdengar suara Rafi tersedu-sedu dari dalam kamar”
“Emang mama mau bicarain apa kok kamu sudah tau, ayo keluar jangan sampe papa kamu marah”kata mama Rafi cemas
Rafi keluar kamar dengan terpaksa, mukanya ditekuk, matanya sembab, Bu Bram menggandeng Rafi ke ruang keluarga, dan langkahnya terhenti saat Rafi berkata dengan menahan air matanya “mah…jang ngan bilang, kal lo Rafi bukan anak mama, jang-ngan bil lang juga kalo Rafi bukan anak papah” Bu Bram menatap Rafi dan air matanya tumpah, Bu Bram tidak bisa menyembunyikan kesedihannya
“Rafi dengar, sampai kapanpun Rafi anak mama, sampai kapanpun mama sayang Rafi’’ ucap Bu Bram sambil memeluk Rafi. Mereka berdua menangis sesenggukan beberapa saat. Setelah puas Bu Bram menghapus air matanya dan menghapus air mata Rafi. Dengan langkah tegar mereka berjalan menuju ruang keluarga
Pak Bram yang berada di samping rumah sedang enak-enak memberi makan burung spontan menuju ke tempat Bu Bram teriak-teriak “ada apa to ma, pagi-pagi kok ribut”
“Lukas pa, udah gak ada”
“Inalillahi”
“bukan pa, maksud mama gak ada dikamarnya”
“mungkin ke kamar mandi ma”
“gak ada”
“jalan-jalan kali ma”
“moga saja”
Tiba-tiba Lukas berada di ambang pintu, sambil terengah-engah Lukas berkata “saya…saya…sudah menemukan Sarah”
****
Lukas memikirkan bagaimana cara membalas perbuatan keji Junaidi. Setelah kejadian di terminal dimana Sarah di bawa paksa oleh Junaidi dendam Lukas semakin besar. Lukas memutuskan untuk mengintai dan dengan dibantu teman-teman sekampung yang juga benci dengan Junaidi Lukas menjalankan aksinya
Mobil Junaidi Lukas bongkar kampes rem nya sehingga blong, dan ketika sedang melaksanakan aksinya tiba-tiba Junaidi datang dan masuk ke dalam mobil. Agar tidak ketahuan Lukas memutuskan untuk ikut masuk dan bersembunyi ke dalam jok belakang mobil.
Meskipun hal itu sangat beresiko karena dapat membahayakan nyawa Lukas sendiri, Lukas tidak ambil peduli, Lukas berdoa agar misinya berhasil.
Di tengah jalan Junaidi mengangkut seseorang bertampang preman, bentuk tubuhnya persis seperti bentuk tubuh Lukas. Junaidi dan preman itu berbicara tentang ganja dan lain sebagainya yang membikin Lukas semakin geram..
Mobil terus melaju kencang, alunan musik bersuara keras berdentam-dentam, Junaidi dan preman itu terus menerus mengoceh , tepat di sebuah tikungan tajam dan turunan mobil yang dinaiki ke 3 orang tersebut tidak bisa mengendalikan dan terpeleset jatuh menuruni tebing curam.
Junaidi kaget dan mereka berteriak “aaaaaaaaaaaa, tidaaaaaaak, ohh shiiitt”
Sementara Lukas seperti tersihir Lukas membuka pintu mobil dan meloncat serta menyaksikan dentuman dahsyat kehancuran mobil tepat di bawah jurang.
“duuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrr” Mobil tersebut meledak dahsyat dan hancur tak bersisa, Asap mengepul hitam di awan.
Lukas menyaksikan peristiwa itu dengan perih,bahkan Lukas tidak bisa tersenyum atau bersedih. Lukas terlalu takut untuk itu.Lukas takut kalau sampe polisi tau Lukas bakal di penjara. Pikiran Lukas berkecamuk dan Lukas sangat takut untuk menampakkan wajahnya. Lukas telah membunuh 2 nyawa. Lukas merasa sangat hina.
*****
Bu Bram dan Pak Bram menatap Lukas yang nafasnya masih tersengal-sengal, kelihatannya ia berlari untuk memberitahukan kabar yang sangat bahagia, bahagia bagi Lukas, karena mereka sebenarnya sudah tau keberadaan Sarah. Sarah guru ngaji Rafi, Sarah atau Kak Lia. Sarah yang berhati besar yang dengan rela hanya mampu menatap anak kandungnya dari jauh, Sarah yang tidak mampu mengaku pada Rafi bahwa dia ibu kandungnya. Sarah yang hanya ingin kebahagiaan Rafi, tanpa memikirkan perasaannya sendiri. Sarah yang sadar diri bahwa dengan Pak Bram dan Bu Bram segala sesuatu dan keinginan Rafi bisa terpenuhi.
“dimana kamu bertemu Sarah Lukas, kami mencari mu kemana-mana? Kata Bu Bram
“maaf Bu, tapi saya terbangun dini hari dan tidak bisa tidur, jadi saya memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sambil menunggu pagi sambil mengingat-ingat masa lalu, dan ketika saya hendak kembali kesini saya melihat seorang yang telah lama saya rindukan sedang menyapu di sebuah surau. Saya tertegun Bu, saya ingin menghampirinya tetapi langkah saya beku, saya ingin mengucapkan namanya tetapi lidah saya kelu. Dan entah mengapa saya hanya bisa berlari kesini” Lukas berkata tanpa jeda
“Tenangkanlah dirimu Lukas, mari kita sarapan terlebih dahulu, setelah itu mari kita juga mengajak Rafi menemui Sarah, semua ini harus jelas”tukas Pak Bram
“tapi pa”sahut Bu Bram sedih
“sabar ma…”
Bu Bram membangunkan Rafi dan mereka makan pagi bersama. Lukas makan dengan sangat cepat seolah-olah Sarah akan pergi sekarang juga. Rafi heran kenapa dirinya diijinkan membolos sekolah, padahal dia tidak sakit dan juga tidak ada acara keluarga, tetapi Rafi hanya menurut.
Setelah makan Bu Bram mengutus seorang pesuruh memanggil Sarah kerumahnya.. Lukas sangat gelisah, tetapi tak hanya Lukas, Bu Bram dan Pak Bram juga ikut gelisah. Yang kelihatan santai hanya Rafi, dia sedang asyik menegak habis susunya.
Mereka tidak perlu menunggu lama karena Sarah langsung datang. Sarah masuk ke rumah dengan mengucapkan salam. Ketika melihat Lukas Sarah langsung terdiam.Lukas terdiam. Bu Bram dan Pak Bram terdiam. Rafi bengong
********
Lukas melihat polisi dan paparazzi berdatangan, Lukas merasa dirinya dicekam ketakutan yang luar biasa. Lukas memutuskan untuk menyembunyikan dirinya dahulu. Lukas berencana setelah keadaan aman Lukas akan keluar dari tempat persembunyian. Esoknya Lukas melihat di berita bahwa seorang lintah darat bernama Junaidi dan buruh perkebunan bernama Lukas meninggal sangat mengenaskan karena kecelakaan masuk jurang, mobilnya hangus terbakar dan jasadnya tidak dikenali.
Lukas sangat kaget dan serta merta berlari pulang. Di rumahnya terdapat bendera-bendera duka..Lukas kehilangan akal. Dia bagaikan makan buah simalakama. Jika Lukas menampakkan bahwa dirinya masih hidup maka Lukas akan di penjara, tetapi jika Lukas terus bersembunyi, Lukas tidak tega meninggalkan kedua orang tuanya dan juga Sarah.
Tetapi hidup adalah sebuah pilihan. Dan Lukas memutuskan untuk pergi sementara dari kehidupannya. Lukas bekerja di pelayaran dan berlayar selama bertahun-tahun. Setelah di pecat dari pelayaran karena diduga kasus suap, hidup Lukas menjadi tidak jelas. Lukas bergabung bersama preman-preman dan para gangster-gengster hingga sekarang.
***********
Beberapa menit mereka berdiri terdiam membisu, Sarah menatap Lukas tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia heran,bingung harus senang, sedih atau gembira. Bibirnya terdiam tak mampu berkata-kata. Hanya air mata yang mengalir pelan di pipinya. Lukas tidak tinggal diam, langsung dibawanya Sarah kedalam pelukannya, Air mata yang mengalir pelan di pipi Sarah menjadi isakan tangis “mas..mas Lukas,,bagaimana bisa?”
“ia Sarah, aku disini, aku masih hidup, maafkan aku Sarah, aku mohon maafkan aku”jawab Lukas sedih
“engga mas, mas gak salah, aku Cuma kangen sama mas”
“ia Sarah, maafkan aku”mereka berdua saling terisak-isak tak terkecuali Bu Bram yang juga meneteskan air mata. Pak Bram hanya bisa menghela nafas pendek dan juga ikut larut dalam kesedihan mereka. Rafi mencoba menerka-nerka apa yang terjadi tetapi masih tidak mengerti. Seketika itu dia ingat ucapan yang didengar tadi malam. Rafi takut sekarang, benar-benar takut akan terjadi hal yang tidak dia inginkan. Rafi pergi kekamarnya dan mengurung diri disana.
Setelah puas memeluk Sarah kini mereka semua berkumpul diruang keluarga. Lukas menceritakan kisahnya dengan terbata-bata dan mata berkaca-kaca hingga tuntas ditemani jemari halus Sarah yang menggenggam lembut tangan Lukas. Sarah, Pak Bram dan Bu Bram mendengar dengan seksama sambil bersimpati dengan kejadian yang menimpa Lukas. Setelah Lukas selesai bercerita Sarah bertanya pelan “mas, apa kamu sudah tau anak kita dimana?
“ia Sarah, anak kita itu Rafi, Bu Bram dan Pak Bram sudah menceritakannya padaku kemaren, aku tidak apa-apa jika Rafi tidak mengenali aku sebagai Ayahnya, bukan aku tidak mau menjadi ayah Rafi, tapi aku merasa tidak pantas sebagai seorang Ayah, Bu Bram dan Pak Bram sudah sangat baik mau merawat Rafi” Lukas berkata bijak
“ia mas aku juga sependapat, mari kita mulai kehidupan yang baru”sahut Sarah
Bu Bram merasa sedih dan miris sekali mendengar ucapan mereka berdua. Pak Bram menatap Bu Bram membujuk istrinya agar mereka jujur saja pada Rafi. Bu Bram mengangguk tanda setuju. Pak Bram meremas tangan Bu Bram seakan mengerti kesedihan hati istrinya. Bu Bram mencoba tersenyum sambil pergi memanggil Rafi.
Pintu kamar Rafi terkunci, Bu Bram mengetuk berulang-ulang tetapi tidak ada sahutan. Bu Bram terus mnggedor-gedor pintu kamar Rafi “Rafi..Rafi, ayo keluar nak, ada yang mau mama bicarakan sama kamu, ayo Rafi”
“engga mau, Rafi tau apa yang mau mama bicarain”terdengar suara Rafi tersedu-sedu dari dalam kamar”
“Emang mama mau bicarain apa kok kamu sudah tau, ayo keluar jangan sampe papa kamu marah”kata mama Rafi cemas
Rafi keluar kamar dengan terpaksa, mukanya ditekuk, matanya sembab, Bu Bram menggandeng Rafi ke ruang keluarga, dan langkahnya terhenti saat Rafi berkata dengan menahan air matanya “mah…jang ngan bilang, kal lo Rafi bukan anak mama, jang-ngan bil lang juga kalo Rafi bukan anak papah” Bu Bram menatap Rafi dan air matanya tumpah, Bu Bram tidak bisa menyembunyikan kesedihannya
“Rafi dengar, sampai kapanpun Rafi anak mama, sampai kapanpun mama sayang Rafi’’ ucap Bu Bram sambil memeluk Rafi. Mereka berdua menangis sesenggukan beberapa saat. Setelah puas Bu Bram menghapus air matanya dan menghapus air mata Rafi. Dengan langkah tegar mereka berjalan menuju ruang keluarga
Langganan:
Postingan (Atom)