Paginya saat Bu Bram telah menunaikan sholat Subuh dilihatnya kamar Lukas terbuka sedikit. Bu Bram mengira Lukas sudah bangun dan hendak menyapanya. Ketika Bu Bram membuka pintu Lukas sudah tidak ada di kamar. Bu Bram mengira Lukas berada dikamar mandi. Bu Bram mencari ke kamar mandi ternyata juga tidak ada. Di cari-carinya sosok Lukas kemana-mana tetap tidak ada. Sampai putus asa Bu Bram mencarinya dan berteriak “Pa, papa,,Lukas gak ada pa!”
Pak Bram yang berada di samping rumah sedang enak-enak memberi makan burung spontan menuju ke tempat Bu Bram teriak-teriak “ada apa to ma, pagi-pagi kok ribut”
“Lukas pa, udah gak ada”
“Inalillahi”
“bukan pa, maksud mama gak ada dikamarnya”
“mungkin ke kamar mandi ma”
“gak ada”
“jalan-jalan kali ma”
“moga saja”
Tiba-tiba Lukas berada di ambang pintu, sambil terengah-engah Lukas berkata “saya…saya…sudah menemukan Sarah”
****
Lukas memikirkan bagaimana cara membalas perbuatan keji Junaidi. Setelah kejadian di terminal dimana Sarah di bawa paksa oleh Junaidi dendam Lukas semakin besar. Lukas memutuskan untuk mengintai dan dengan dibantu teman-teman sekampung yang juga benci dengan Junaidi Lukas menjalankan aksinya
Mobil Junaidi Lukas bongkar kampes rem nya sehingga blong, dan ketika sedang melaksanakan aksinya tiba-tiba Junaidi datang dan masuk ke dalam mobil. Agar tidak ketahuan Lukas memutuskan untuk ikut masuk dan bersembunyi ke dalam jok belakang mobil.
Meskipun hal itu sangat beresiko karena dapat membahayakan nyawa Lukas sendiri, Lukas tidak ambil peduli, Lukas berdoa agar misinya berhasil.
Di tengah jalan Junaidi mengangkut seseorang bertampang preman, bentuk tubuhnya persis seperti bentuk tubuh Lukas. Junaidi dan preman itu berbicara tentang ganja dan lain sebagainya yang membikin Lukas semakin geram..
Mobil terus melaju kencang, alunan musik bersuara keras berdentam-dentam, Junaidi dan preman itu terus menerus mengoceh , tepat di sebuah tikungan tajam dan turunan mobil yang dinaiki ke 3 orang tersebut tidak bisa mengendalikan dan terpeleset jatuh menuruni tebing curam.
Junaidi kaget dan mereka berteriak “aaaaaaaaaaaa, tidaaaaaaak, ohh shiiitt”
Sementara Lukas seperti tersihir Lukas membuka pintu mobil dan meloncat serta menyaksikan dentuman dahsyat kehancuran mobil tepat di bawah jurang.
“duuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrr” Mobil tersebut meledak dahsyat dan hancur tak bersisa, Asap mengepul hitam di awan.
Lukas menyaksikan peristiwa itu dengan perih,bahkan Lukas tidak bisa tersenyum atau bersedih. Lukas terlalu takut untuk itu.Lukas takut kalau sampe polisi tau Lukas bakal di penjara. Pikiran Lukas berkecamuk dan Lukas sangat takut untuk menampakkan wajahnya. Lukas telah membunuh 2 nyawa. Lukas merasa sangat hina.
*****
Bu Bram dan Pak Bram menatap Lukas yang nafasnya masih tersengal-sengal, kelihatannya ia berlari untuk memberitahukan kabar yang sangat bahagia, bahagia bagi Lukas, karena mereka sebenarnya sudah tau keberadaan Sarah. Sarah guru ngaji Rafi, Sarah atau Kak Lia. Sarah yang berhati besar yang dengan rela hanya mampu menatap anak kandungnya dari jauh, Sarah yang tidak mampu mengaku pada Rafi bahwa dia ibu kandungnya. Sarah yang hanya ingin kebahagiaan Rafi, tanpa memikirkan perasaannya sendiri. Sarah yang sadar diri bahwa dengan Pak Bram dan Bu Bram segala sesuatu dan keinginan Rafi bisa terpenuhi.
“dimana kamu bertemu Sarah Lukas, kami mencari mu kemana-mana? Kata Bu Bram
“maaf Bu, tapi saya terbangun dini hari dan tidak bisa tidur, jadi saya memutuskan untuk jalan-jalan sebentar sambil menunggu pagi sambil mengingat-ingat masa lalu, dan ketika saya hendak kembali kesini saya melihat seorang yang telah lama saya rindukan sedang menyapu di sebuah surau. Saya tertegun Bu, saya ingin menghampirinya tetapi langkah saya beku, saya ingin mengucapkan namanya tetapi lidah saya kelu. Dan entah mengapa saya hanya bisa berlari kesini” Lukas berkata tanpa jeda
“Tenangkanlah dirimu Lukas, mari kita sarapan terlebih dahulu, setelah itu mari kita juga mengajak Rafi menemui Sarah, semua ini harus jelas”tukas Pak Bram
“tapi pa”sahut Bu Bram sedih
“sabar ma…”
Bu Bram membangunkan Rafi dan mereka makan pagi bersama. Lukas makan dengan sangat cepat seolah-olah Sarah akan pergi sekarang juga. Rafi heran kenapa dirinya diijinkan membolos sekolah, padahal dia tidak sakit dan juga tidak ada acara keluarga, tetapi Rafi hanya menurut.
Setelah makan Bu Bram mengutus seorang pesuruh memanggil Sarah kerumahnya.. Lukas sangat gelisah, tetapi tak hanya Lukas, Bu Bram dan Pak Bram juga ikut gelisah. Yang kelihatan santai hanya Rafi, dia sedang asyik menegak habis susunya.
Mereka tidak perlu menunggu lama karena Sarah langsung datang. Sarah masuk ke rumah dengan mengucapkan salam. Ketika melihat Lukas Sarah langsung terdiam.Lukas terdiam. Bu Bram dan Pak Bram terdiam. Rafi bengong
********
Lukas melihat polisi dan paparazzi berdatangan, Lukas merasa dirinya dicekam ketakutan yang luar biasa. Lukas memutuskan untuk menyembunyikan dirinya dahulu. Lukas berencana setelah keadaan aman Lukas akan keluar dari tempat persembunyian. Esoknya Lukas melihat di berita bahwa seorang lintah darat bernama Junaidi dan buruh perkebunan bernama Lukas meninggal sangat mengenaskan karena kecelakaan masuk jurang, mobilnya hangus terbakar dan jasadnya tidak dikenali.
Lukas sangat kaget dan serta merta berlari pulang. Di rumahnya terdapat bendera-bendera duka..Lukas kehilangan akal. Dia bagaikan makan buah simalakama. Jika Lukas menampakkan bahwa dirinya masih hidup maka Lukas akan di penjara, tetapi jika Lukas terus bersembunyi, Lukas tidak tega meninggalkan kedua orang tuanya dan juga Sarah.
Tetapi hidup adalah sebuah pilihan. Dan Lukas memutuskan untuk pergi sementara dari kehidupannya. Lukas bekerja di pelayaran dan berlayar selama bertahun-tahun. Setelah di pecat dari pelayaran karena diduga kasus suap, hidup Lukas menjadi tidak jelas. Lukas bergabung bersama preman-preman dan para gangster-gengster hingga sekarang.
***********
Beberapa menit mereka berdiri terdiam membisu, Sarah menatap Lukas tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia heran,bingung harus senang, sedih atau gembira. Bibirnya terdiam tak mampu berkata-kata. Hanya air mata yang mengalir pelan di pipinya. Lukas tidak tinggal diam, langsung dibawanya Sarah kedalam pelukannya, Air mata yang mengalir pelan di pipi Sarah menjadi isakan tangis “mas..mas Lukas,,bagaimana bisa?”
“ia Sarah, aku disini, aku masih hidup, maafkan aku Sarah, aku mohon maafkan aku”jawab Lukas sedih
“engga mas, mas gak salah, aku Cuma kangen sama mas”
“ia Sarah, maafkan aku”mereka berdua saling terisak-isak tak terkecuali Bu Bram yang juga meneteskan air mata. Pak Bram hanya bisa menghela nafas pendek dan juga ikut larut dalam kesedihan mereka. Rafi mencoba menerka-nerka apa yang terjadi tetapi masih tidak mengerti. Seketika itu dia ingat ucapan yang didengar tadi malam. Rafi takut sekarang, benar-benar takut akan terjadi hal yang tidak dia inginkan. Rafi pergi kekamarnya dan mengurung diri disana.
Setelah puas memeluk Sarah kini mereka semua berkumpul diruang keluarga. Lukas menceritakan kisahnya dengan terbata-bata dan mata berkaca-kaca hingga tuntas ditemani jemari halus Sarah yang menggenggam lembut tangan Lukas. Sarah, Pak Bram dan Bu Bram mendengar dengan seksama sambil bersimpati dengan kejadian yang menimpa Lukas. Setelah Lukas selesai bercerita Sarah bertanya pelan “mas, apa kamu sudah tau anak kita dimana?
“ia Sarah, anak kita itu Rafi, Bu Bram dan Pak Bram sudah menceritakannya padaku kemaren, aku tidak apa-apa jika Rafi tidak mengenali aku sebagai Ayahnya, bukan aku tidak mau menjadi ayah Rafi, tapi aku merasa tidak pantas sebagai seorang Ayah, Bu Bram dan Pak Bram sudah sangat baik mau merawat Rafi” Lukas berkata bijak
“ia mas aku juga sependapat, mari kita mulai kehidupan yang baru”sahut Sarah
Bu Bram merasa sedih dan miris sekali mendengar ucapan mereka berdua. Pak Bram menatap Bu Bram membujuk istrinya agar mereka jujur saja pada Rafi. Bu Bram mengangguk tanda setuju. Pak Bram meremas tangan Bu Bram seakan mengerti kesedihan hati istrinya. Bu Bram mencoba tersenyum sambil pergi memanggil Rafi.
Pintu kamar Rafi terkunci, Bu Bram mengetuk berulang-ulang tetapi tidak ada sahutan. Bu Bram terus mnggedor-gedor pintu kamar Rafi “Rafi..Rafi, ayo keluar nak, ada yang mau mama bicarakan sama kamu, ayo Rafi”
“engga mau, Rafi tau apa yang mau mama bicarain”terdengar suara Rafi tersedu-sedu dari dalam kamar”
“Emang mama mau bicarain apa kok kamu sudah tau, ayo keluar jangan sampe papa kamu marah”kata mama Rafi cemas
Rafi keluar kamar dengan terpaksa, mukanya ditekuk, matanya sembab, Bu Bram menggandeng Rafi ke ruang keluarga, dan langkahnya terhenti saat Rafi berkata dengan menahan air matanya “mah…jang ngan bilang, kal lo Rafi bukan anak mama, jang-ngan bil lang juga kalo Rafi bukan anak papah” Bu Bram menatap Rafi dan air matanya tumpah, Bu Bram tidak bisa menyembunyikan kesedihannya
“Rafi dengar, sampai kapanpun Rafi anak mama, sampai kapanpun mama sayang Rafi’’ ucap Bu Bram sambil memeluk Rafi. Mereka berdua menangis sesenggukan beberapa saat. Setelah puas Bu Bram menghapus air matanya dan menghapus air mata Rafi. Dengan langkah tegar mereka berjalan menuju ruang keluarga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar