Minggu, 12 Juni 2011

kepergian Rafi part 2

“Lukaas?”pekik papa Rafi “bukannya kamu sudah mati?”
Mama Rafi juga keliatan sangat terkejut melihat sosok yang ada didepannya
“ia Pak, saya masih hidup”
“bagaimana bisa?”

****
Lukas hanya memandang getir dan kembali mengingat masa lalu
Lukas mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi, dan melupakan Sarah dari hidupnya. Lukas hanya bisa berdoa agar Sarah bahagia dengan Junaidi. Sampai suatu ketika Lukas ikut ronda bersama warga sekitar. Ketika tengah asyik bermain kartu Lukas dikejutkan suara teriakan.

Spontan orang-orang ronda dan Lukas berlari menuju arah teriakan tersebut. Dan Lukas terkejut ketika melihat Sarah berlari mencoba kabur tetapi berhasil ditangkap oleh anak buah keparat Junaidi. Junaidi yang menyusul dari belakang langsung menjambak rambut Sarah dan menampar pipi Sarah. Orang-orang ronda beserta Lukas mencoba melerai tetapi di halangi oleh anak buah Junaidi dengan dalih urusan rumah tangga. Tetapi Lukas tidak mau diam lagi, diambilnya sebuah balok dan langsung diarahkan kepada Junaidi yang menyeret Sarah pulang

“dasar keparaaaaat” “brruuukkkk”Junaidi jatuh tersungkur dan darah mengalir deras dari kepalanya

*****
Mama,papa Rafi mengajak Lukas makan malam sambil sesekali melirik-lirik Lukas yang masih tak kunjung bicara. Sebenarnya mereka berharap Lukas mau menceritakan kisahnya. Terakhir Pak Bram dan Bu Bram (orang tua Rafi) dengar Lukas udah meninggal 12 yang lalu kecelakaan mobil dan jenazahnya hangus tidak bisa dikenali. Petugas telah melakukan otopsi dan sudah dipastikan itu jenazah Lukas. Tapi bagaimana bisa orang yang sudah meninggal sekarang berada tepat dihadapannya. Sedang makan bersamanya, dan menyelamatkan putra mereka. Dalam keheningan jamuan makan Pak Bram memulai obrolan ”Kamu sudah pernah bertemu Sarah belum semenjak kejadian itu?” Bu Bram hanya menatap Lukas yang masih terdiam sedang asyik bersama sendok dan garpunya, sedangkan Rafi makan dengan lahap, perutnya sangat kelaparan. ”belum pak, saya hanya mendengar kabar bahwa setelah melahirkan, Sarah jadi tkw di luar negeri dan anak Sarah ditipkan padaa..” Lukas menghentikan ucapannya. Bu Bram dan Pak Bram juga tampak terkejut. Namun Pak Bram mencoba bersikap seolah biasa saja. Suasana hening mulai berlanjut. Mereka sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.

**** Setelah memukul Junaidi dengan balok kayu Lukas mengajak Sarah kabur. Mereka berdua berlari menuju ke tempat paling aman. Anak buah Junaidi melarikan Junaidi ke rumah sakit. Lukas bakal tau bahaya apa yang sedang mengancamnya. Tapi ia terlalu mencintai Sarah. Dipapahnya Sarah yang tengah hamil tua ke sebuah rumah reyot tak terpakai di tengah-tengah perkebunan. Nafas Sarah tersengal-sengal, terlihat air mata tak henti-hentinya membasahi kedua pipi Sarah. ”Mas, berhenti sebentar mas, perutku sakit”keluh Sarah ”ia, kita masuk ke gubuk dan kita istirahat sebentar” ”mas, apa tidak apa-apa kita kabur seperti ini, orang-orang suruhan Junaidi pasti mencari kita dan semakin menyiksa kita mas,aku takut mas. Kalau sampe terjadi apa-apa sama mas, aku gak bisa memaafkan diriku sendiri mas. Aku yang salah mas, orang tuaku yang salah mas”pekik Sarah menahan emosi ”terus maksudmu apa?kamu mau kabur sendirian?kamu mau kemana tengah malam begini dengan perut buncit seperti itu?aku Cuma gak pingin terjadi sesuatu sama kamu Sarah. Aku gak terima Junaidi memperlakukan kamu kasar seperti itu. Kamu sedang mengandung anakku. Anak kita, sampai kapanpun dengan nyawaku akan ku lindungi kalian. Mungkin kemaren aku sangat bodoh tidak punya nyali untuk melindungi kalian, tetapi sekarang, jangan harap. Meskipun aku mati tak akan ku serahkan kamu ke tangan Junaidi lagi” sahut Lukas geram ”maafin aku mas, dan makasih, mungkin ini cobaan buat kita mas, aku capek, aku mau istirahat dulu ya mas..” Sarah tertidur lelap saat berasa di pangkuan Lukas, Lukas yang dari tadi menahan tangisnya kini menangis keras, menangisi nasibnya yang tidak bisa tenang dengan wanita yang sangat dicintainya itu.
**** Setelah membereskan meja makan, Bu Bram menyuruh Rafi pergi kekamarnya. Lukas sudah hendak pamit pulang tetapi dicegah oleh Bu Bram dan Pak Bram ”sudah terlalu malam, tinggallah disini dahulu” ucap Bu Bram ”maaf Bu, bukannya saya tidak mau, tetapi saya tidak ingin tinggal lama-lama disini, disini terlalu banyak menyimpan kenangan pait dan saya tidak sanggup” ucap Lukas ”kita tau, tetapi apakah kamu tidak kangen dengan anak mu?dengan Sarah? Kata Pak Bram
Lukas nampak terkejut ”Maksud Ibu dan Bapak? ” Lukas pura-pura tidak tau Bu Bram tersenyum sembari berkata ”Apa kamu tidak tau kalo sebenarnya Rafi itu.. ”bu Bram mendesah sedih ”anak kamu” **** Mentari hangat menyambut pagi, menyapu semua mimpi-mimpi indah milik manusia di bumi. Lukas terbangun dan tersenyum melihat Sarah yang masih terlelap di pangkuannya. Lukas melihat wajah damai Sarah, penuh cinta. Dengan menepuk pipi Sarah dengan lembut, Lukas mengucapkan ”selamat pagi nyonya Lukas” Sarah tersenyum lalu menguap kecil. Mereka berencana pergi ke luar kota. Dimana tidak ada sosok Junaidi yang mengganggunya. Setelah cuci muka di sungai, Lukas dan Sarah melanjutkan perjalanannya kembali. Mereka berjalan santai menuju terminal bis. Tanpa mengetahui seseorang yang tengah mengintai mereka.
****
Lukas menatap Bu Bram antara tak percaya dan sangat percaya, karena dalam hati kecilnya mulai bertemu Rafi ada yang beda dari anak itu, sepasang mata teduhnya mengingatkan Lukas pada sosok Sarah. Senyumnya menawan layaknya senyum Lukas. Dan dari kabar 10 tahun silam informasi yang Lukas dapat Sarah pergi keluar negeri dengan menitipkan anaknya pada orang terpandang di kampung mereka. Lukas tidak punya nyali untuk datang kembali kekampung ini . Pak Bram dan Bu Bram juga senang apalagi mereka hingga saat ini belum dikarunia seorang anak.
“sekarang ceritakan pada kami Lukas, itupun kalau kamu tidak keberatan“ ucapan Pak Bram memecah kesunyian. Bu Bram membelai lembut punggung Lukas tatkala Lukas mulai terisak-isak. Dan dengan lembut berkata “tidak apa-apa kalau kamu belum siap Lukas, kami menghargai sikap kamu, kami mengerti ada luka dihati kamu, sekarang kamu istirahat, kami sudah menyiapkan sebuah kamar, pasti kamu sangat capek“ Pak Bram dan Bu Bram menghela nafas panjang, Lukas berjalan pelan menuju kamarnya. Dalam hati kecil, Bu Bram sangat takut akan kehilangan Rafi, bagaimana jika Rafi tau kalau sebenarnya orang yang selama ini dianggap orang tua oleh Rafi sebenarnya bukan orang tua kandungnya. Sedih sekali memikirkan hal itu. Tetapi mereka tidak boleh egois, karena pada hakekatnya anak hanyalah sebuah titipan. Yang paling berhak adalah Allah Yang Maha Esa Lukas berbaring di kasur empuk, kasur yang sangat nyaman. Lukas tidak pernah merasakan damai sedamai dikediaman Pak Bram. Tidak dikejar-kejar dan tidak diburu. Lukas ingin segera terlelap dan memimpikan hal yang indah. Namun lamunannya membawa Lukas kembali ke beberapa tahun silam ***** Sarah dan Lukas duduk di halte bis sambil memikirkan akan pergi kemana. Mereka berdua sama-sama bingung tidak punya ide mau kemana. karena tidak ada sanak saudara yang hendak mereka kunjungi. Karena cuaca yang sangat panas mereka berdua kehausan. Lukas memutuskan membeli sebotol air mineral. Sarah memutuskan untuk ikut tetapi Lukas takut Sarah kelelahan jadi Lukas memutuskan Sarah tinggal. Sarah menyetujui dan meminta agar Lukas berjanji agar segera kembali. Lukas tersenyum sambil mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Sarah. Lukas mencari-cari pedagang asongan, tetapi sepi, jadi Lukas pergi ke toko agak jauh diseberang jalan.Lukas berjalan pelan sambil menyenandungkan lagu kebahagiaan. Setelah membeli air mineral Lukas segera kembali ke tempat istrinya tercinta berada. Sesampai disana langkah kaki Lukas tehenti, Sarah tidak berada disana. Hatinya bergemuruh takut, pandangan matanya memeriksa di seluruh pelosok terminal. Tetapi tidak tampak sosok Sarah. Lukas mulai kacau, bingung, dicarinya Sarah sambil berlari kesana kemari. Tak henti-hentinya Lukas bertanya kepada setiap orang yang ada di halte, terminal maupun di jalan. Lukas panik, dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Sarah. Dibantingnya air mineral yang berada di tangan Lukas. Hausnya hilang seketika, diganti kegeraman atas nama Junaidi ****** Lukas tertidur pulas sambil memimpikan Sarah, Rafi dan Lukas berada di tempat yang sangat indah, damai tak seperti hidupnya. Setelah beberapa tahun berlalu tetapi Lukas masih mencintai Sarah, merindukan buah hatinya. Di kamar Rafi gelisah, dari tadi dipejamkan matanya tetapi tetap saja dia tidak bisa tidur, diotaknya hanya terngiang-ngiang pembicaraan orang tuanya dengan om yang dia temui tadi sore. “ Bagaimana dia ayahku. Tidak mungkin..pasti aku salah dengar, atau papa mama salah ngomong. Aku adalah Rafi, putra dari Pak Bram dan Bu Bram orang terkaya di kampung ini. Jadi aku tidak perlu takut, dasar bodoh hal itu mustahil, pasti ini karena aku sangat capai, jadi aku berhalusinasi saja“ Rafi mengoceh sendiri mencoba menenangkan batinnya. Beberapa lama kemudian Rafi terlelap. Tanpa disadari Bu Bram masuk kekamar Rafi. Bu Bram duduk di pinggir kasur Rafi sambil membetulkan selimut Rafi agar Rafi terhindar dari hawa dingin yang menyerang. Tangannya membelai-belai kepala Rafi dan terakhir mencium kening Rafi. Setelah itu Bu Bram tidur disamping Rafi sambil memeluk dari samping. Bu Bram sangat menyayangi Rafi.

kepergian Rafi part 1

Rafi anak tunggal dari keluarga kaya raya, dia anak yang sangat manja, angkuh dan sombong, dia ngerasa harta kekayaan orang tuanya gak akan habis dan dia juga ngerasa tidak membutuhkan siapa-siapa, karena kebutuhannya sudah terpenuhi semua.

Rafi kelas 1 SMP. Dikelas, dia Cuma mau temenan sama anak yang kekayaannya setara orang tuanya, jadi teman Rafi tidak banyak. Kalau saja temen-temennya tidak sering ditraktir oleh Rafi mungkin Rafi tidak akan mempunyai temen sama sekali, karena pada dasarnya Rafi tidak disukai oleh temen-temennya

Padahal orang tua Rafi tidak pernah mengajarkan hal-hal yang jelek sama Rafi, melihat Rafi bertumbuh dan berkembang dengan sifat yang seperti itu membuat orang tua Rafi sedih..

Setiap sore Rafi belajar ngaji di surau belakang rumah. Rafi mengaji dengan setengah hati, Karena Rafi merasa gak level ngaji disana, yang ngaji disana hanyalah anak kampung yang dekil dan Rafi tidak suka.Tetapi orang tua Rafi selalu memaksa dan mendesak dengan maksud baik, agar Rafi dapat bersosialisasi dan melihat ke bawah, bukan semena-mena dengan kekayaan orang tuanya.

Di tempat Rafi tidak mempunyai teman, dia bahkan jijik untuk mengaji disana, karena sekitar surau tersebut terdapat berderet-deret rumah kumuh yang dihuni beberapa teman ngajinya. Sebenarnya tanah tersebut milik orang tua Rafi tetapi telah di hibahkan oleh orang tua Rafi.

“ayo adek-adek buka iqro’ kamu” kata kak Lia guru ngaji Rafi
Temen-temen Rafi pada membuka iqro’ mereka masing-masing lalu membacanya dan dengan sabar kak Lia membenahi kata-kata yang salah.
Ketika tiba giliran Rafi untuk mengaji Rafi malah diam
“ayo dibuka iqro’ kamu?gak pingin cepat-cepat naik ke iqro’ selanjutnya kayak teman-teman kamu?padahal banyak lo anak seumuran kamu sudah bisa mengaji Al-Qur’an”kata kak Lia penuh sabar”
“aku gak mau mengaji, ngapain mengaji bikin capek, aku mau pulang, gak seharusnya aku berada di sini, kampung kumuh” sahut Rafi tanpa rasa bersalah
“Astagfirullah, sayang, gak baik bicara begitu. Nanti Allah murka”
“aku gak peduli”
Rafi berlari pulang
Lia menatap kepergian Rafi dengan penuh iba. Hatinya sangat sedih

Sesampainya dirumah mama Rafi heran kok jam segini anaknya udah pulang “loh kok pulang cepet to le?”
“Rafi pulang dulu, Rafi gak mau ngaji di sana lagi ma, Rafi gak mau”
“terus Rafi maunya gimana?ngaji dimana?ayo ngaji ama mama”

“Rafi, kamu emang keterlaluan, jangan bikin malu papa., sudah dibilang baik-baik kalo kamu jangan nakal, sama orang tua yang sopan, tadi papa Liat kamu bentak-bentak kak Lia, mau jadi apa kamu?”bentak papanya yang tiba-tiba muncul di depan Rafi
“buat apa Rafi ngaji pa, buat apa Rafi menghargai orang rendahan itu”sahut Rafi tajam
“keterlaluan kamu Rafi, sombong kamu jadi orang, ayo minta maaf. Jangan jadi anak durhaka”kata papa Rafi sambil menggeret Rafi menuju surau belakang rumah
“engga Rafi gak mau, Rafi gak mau” Ketika genggaman ayahnya agak longgar Rafi melepaskan dan melarikan diri.
“Rafi..Rafii mau kemana kamu?”teriak papa Rafi
Tetapi Rafi sudah menghilang

Sesampai di rumah mama Rafi yang dari tadi cemas memikirkan anak semata wayang yang sangat dicintainya itu langsung menyongsong tatkala ayah Rafi masuk ke rumah “loh pa, Rafi mana?”
“papa gak tau, dasar anak bandel!!!, tadi waktu papa ajak minta maaf, eh dia malah lari kabur, mama sih terlalu memanjakan dia, kan jadinya gini, gak bisa diatur” kata papa Rafi kesal
“terus Rafi kemana pa?dia kan masih kecil”mama Rafi sangat cemas
“biar dah ma, ntar kan pulang-pulang sendiri kalo laper”

****
Rafi terus berlari tak tentu arah, dia terus berlari dan berlari. Rafi benci meminta maaf. Dia terlalu angkuh untuk melakukan itu. Rafi menganggap dirinya tidak bersalah. Gak seharusnya papa memperlakukan Rafi seperti itu. Rafi benci papa.

Rafi baru berhenti berlari ketika nafasnya tersengal sudah hampir habis. Tenggorokannya pun kering kerontang, rafi beristirahat di trotoar. Ini tempat yang asing bagi Rafi. Rafi pun kebingungan, dia menoleh ke kanan dan kekiri, tetapi tidak terdapat petunjuk satu pun ini di daerah mana. Rafi yang kebingungan mulai menangis. Tenggorokannya kering dan dia tidak membawa uang sepeser pun.

Di tengah-tengah tangisannya Rafi dikejutkan oleh suara beberapa orang pria bertumbuh kekar yang lagi bertengkar. Ada dua pria yang membawa tongkat, dan satunya lagi tidak membawa apa-apa. Kelihatannya pria yang tidak membawa apa-apa dikeroyok oleh kedua pria yang membawa tongkat tadi
“dasar penghianat kau”kata pria satunya sambil terus mengayun-ayunkan tongkat ke tubuh pria yang sudah tak berdaya
“maaf bang, aku tidak bermaksud mengadukan keberadaan geng kita, tetapi polisi tersebut memaksa, jadi aku keceplosan bang”
“alah, banyak alasan kamu, aku gak mau tau, kalo sampe geng kita diciduk polisi satu-satu, kamu yang akann menanggung akibatnya”

Setelah puas menghajar, kedua preman tersebut meninggalkan pria tadi yang tergeletak di trotoar tanpa ada yang mempedulikan. Rafi yang dari tadi ketakutan dan bersembunyi di balik semak-semak keluar dan merasa iba kepada pria tadi. Diputuskannya untuk menolong, tapi bagaimana caranya?bukankah tangan kecil Rafi tidak mampu untuk membopong pria bertubuh kekar tersebut.

Akhirnya Rafi memutuskan untuk mendekati pria tersebut
“om-om bangun om, om gak papa?’’ Tanya Rafi sambil mencolek-colek badannya
“ia, gak papa, kamu siapa?”kata om sambil terengah-engah menahan luka disekujur tubuhnya
“aku Rafi om, om siapa?om kenapa?”
“om Lukas, om gak papa, bantu om berdiri ya”
“ia om”

Singkat cerita Rafi bercerita kepada om Lukas bahwa dirinya lupa jalan pulang. Lukas bertanya dimana alamat Rafi tetapi Rafi sendiri tidak tau alamat rumahnya. Tetapi sewaktu om Lukas bertanya tentang daerah dimana Rafi tinggal. Rafi menjelaskan bahwa dia tinggal di daerah deket taman kota. Rafi juga bilang dia tinggal dirumah yang besar tanpa tetangga. Karena kiri kanan rumah Rafi perkebunan luas milik papa Rafi, yang ada hanya beberapa kampung tepat di belakang rumah Rafi.

Setelah mendengar penuturan Rafi om Lukas terkejut sejenak lalu terdiam, teringat kenangan pait beberapa taun silam. Dimana dia dan istrinya Sarah bekerja di perkebunan kopi milik bapak Rafi, suasana yang nyaman, hidup yang harmonis, dan terenggut paksa oleh seorang lintah darat yang sangat menyukai Sarah. Ayah ibu Sarah yang sangat miskin terpaksa harus merelakan anaknya untuk dijadikan gundik demi sejumlah uang. Lukas tidak berdaya, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya api dendam yang membara di hatinya. Apalagi ketika itu Sarah tengah hamil muda.

“om,om. Gimana?jadi nganterin Rafi pulang gak om”suara memelas Rafi membuyarkan lamunan Lukas
“ia, dulu om pernah kerja disitu, om kenal ama papa kamu”Lukas menatap Rafi lama sekali, hatinya seakan teriris-iris.Apakah ini?ah sudahlah lupakan
“wah kebetulan banget om”lagi-lagi ocehan Rafi membuyarkan lamunannya
“ayo om antar pulang, kita naek angkot aja biar cepet. Tapi om mau bersihkan muka dulu di sungai belakang, kamu tunggu sini ya”
“ia om”sahut Rafi lega

****
Lukas memendam dendamnya lama, dia sangat mencintai Sarah melebihi apapun, dan dia membenci dirinya karena tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sangat sakit hati tatkala melihat Junaidi (nama lintah darat tersebut) membawa Sarah jalan-jalan keliling kampung sambil tertawa-tawa bahagia. Diseretnya Sarah yang tengah hamil dan Sarah hanya tersenyum kecut saat berpapasan dengan Lukas. Dilihatnya bekas memar diseluruh wajah Sarah. Lukas geram dan seperti biasa tidak bisa berbuat apa-apa.

***

“kiri pak” kata Lukas saat angkot yang dinaikinya memasuki kawasan asri, tempat rumah Rafi tinggal
“ia om, bener ini rumah Rafi om”

Disepanjang perjalanan menuju rumahnya, Rafi tak segan-segan berlari menuju rumahnya. Lukas yang mengikutinya dari belakang hanya tersenyum tipis sambil mengenang masa lalunya.

Sampe dirumah mama Rafi yang sedari tadi cemas memikirkan nasib Rafi langsung memeluk dan mencium Rafi secara bertubi-tubi “dari mana aja kamu nak, bikin mama khawatir, tapi syukurlah kamu gak apa-apa”

“Rafi diantarkan om itu ma”
Papa Rafi langsung terbelalak melihat orang yang mengantarkan Rafi
“Lukas??”pekik papa Rafi “bukannya kamu sudah mati?”

Mama Rafi juga keliatan sangat terkejut melihat sosok yang ada didepannya
“ia Pak, saya masih hidup”
“bagaimana bisa?”

_bersambung