Rafi anak tunggal dari keluarga kaya raya, dia anak yang sangat manja, angkuh dan sombong, dia ngerasa harta kekayaan orang tuanya gak akan habis dan dia juga ngerasa tidak membutuhkan siapa-siapa, karena kebutuhannya sudah terpenuhi semua.
Rafi kelas 1 SMP. Dikelas, dia Cuma mau temenan sama anak yang kekayaannya setara orang tuanya, jadi teman Rafi tidak banyak. Kalau saja temen-temennya tidak sering ditraktir oleh Rafi mungkin Rafi tidak akan mempunyai temen sama sekali, karena pada dasarnya Rafi tidak disukai oleh temen-temennya
Padahal orang tua Rafi tidak pernah mengajarkan hal-hal yang jelek sama Rafi, melihat Rafi bertumbuh dan berkembang dengan sifat yang seperti itu membuat orang tua Rafi sedih..
Setiap sore Rafi belajar ngaji di surau belakang rumah. Rafi mengaji dengan setengah hati, Karena Rafi merasa gak level ngaji disana, yang ngaji disana hanyalah anak kampung yang dekil dan Rafi tidak suka.Tetapi orang tua Rafi selalu memaksa dan mendesak dengan maksud baik, agar Rafi dapat bersosialisasi dan melihat ke bawah, bukan semena-mena dengan kekayaan orang tuanya.
Di tempat Rafi tidak mempunyai teman, dia bahkan jijik untuk mengaji disana, karena sekitar surau tersebut terdapat berderet-deret rumah kumuh yang dihuni beberapa teman ngajinya. Sebenarnya tanah tersebut milik orang tua Rafi tetapi telah di hibahkan oleh orang tua Rafi.
“ayo adek-adek buka iqro’ kamu” kata kak Lia guru ngaji Rafi
Temen-temen Rafi pada membuka iqro’ mereka masing-masing lalu membacanya dan dengan sabar kak Lia membenahi kata-kata yang salah.
Ketika tiba giliran Rafi untuk mengaji Rafi malah diam
“ayo dibuka iqro’ kamu?gak pingin cepat-cepat naik ke iqro’ selanjutnya kayak teman-teman kamu?padahal banyak lo anak seumuran kamu sudah bisa mengaji Al-Qur’an”kata kak Lia penuh sabar”
“aku gak mau mengaji, ngapain mengaji bikin capek, aku mau pulang, gak seharusnya aku berada di sini, kampung kumuh” sahut Rafi tanpa rasa bersalah
“Astagfirullah, sayang, gak baik bicara begitu. Nanti Allah murka”
“aku gak peduli”
Rafi berlari pulang
Lia menatap kepergian Rafi dengan penuh iba. Hatinya sangat sedih
Sesampainya dirumah mama Rafi heran kok jam segini anaknya udah pulang “loh kok pulang cepet to le?”
“Rafi pulang dulu, Rafi gak mau ngaji di sana lagi ma, Rafi gak mau”
“terus Rafi maunya gimana?ngaji dimana?ayo ngaji ama mama”
“Rafi, kamu emang keterlaluan, jangan bikin malu papa., sudah dibilang baik-baik kalo kamu jangan nakal, sama orang tua yang sopan, tadi papa Liat kamu bentak-bentak kak Lia, mau jadi apa kamu?”bentak papanya yang tiba-tiba muncul di depan Rafi
“buat apa Rafi ngaji pa, buat apa Rafi menghargai orang rendahan itu”sahut Rafi tajam
“keterlaluan kamu Rafi, sombong kamu jadi orang, ayo minta maaf. Jangan jadi anak durhaka”kata papa Rafi sambil menggeret Rafi menuju surau belakang rumah
“engga Rafi gak mau, Rafi gak mau” Ketika genggaman ayahnya agak longgar Rafi melepaskan dan melarikan diri.
“Rafi..Rafii mau kemana kamu?”teriak papa Rafi
Tetapi Rafi sudah menghilang
Sesampai di rumah mama Rafi yang dari tadi cemas memikirkan anak semata wayang yang sangat dicintainya itu langsung menyongsong tatkala ayah Rafi masuk ke rumah “loh pa, Rafi mana?”
“papa gak tau, dasar anak bandel!!!, tadi waktu papa ajak minta maaf, eh dia malah lari kabur, mama sih terlalu memanjakan dia, kan jadinya gini, gak bisa diatur” kata papa Rafi kesal
“terus Rafi kemana pa?dia kan masih kecil”mama Rafi sangat cemas
“biar dah ma, ntar kan pulang-pulang sendiri kalo laper”
****
Rafi terus berlari tak tentu arah, dia terus berlari dan berlari. Rafi benci meminta maaf. Dia terlalu angkuh untuk melakukan itu. Rafi menganggap dirinya tidak bersalah. Gak seharusnya papa memperlakukan Rafi seperti itu. Rafi benci papa.
Rafi baru berhenti berlari ketika nafasnya tersengal sudah hampir habis. Tenggorokannya pun kering kerontang, rafi beristirahat di trotoar. Ini tempat yang asing bagi Rafi. Rafi pun kebingungan, dia menoleh ke kanan dan kekiri, tetapi tidak terdapat petunjuk satu pun ini di daerah mana. Rafi yang kebingungan mulai menangis. Tenggorokannya kering dan dia tidak membawa uang sepeser pun.
Di tengah-tengah tangisannya Rafi dikejutkan oleh suara beberapa orang pria bertumbuh kekar yang lagi bertengkar. Ada dua pria yang membawa tongkat, dan satunya lagi tidak membawa apa-apa. Kelihatannya pria yang tidak membawa apa-apa dikeroyok oleh kedua pria yang membawa tongkat tadi
“dasar penghianat kau”kata pria satunya sambil terus mengayun-ayunkan tongkat ke tubuh pria yang sudah tak berdaya
“maaf bang, aku tidak bermaksud mengadukan keberadaan geng kita, tetapi polisi tersebut memaksa, jadi aku keceplosan bang”
“alah, banyak alasan kamu, aku gak mau tau, kalo sampe geng kita diciduk polisi satu-satu, kamu yang akann menanggung akibatnya”
Setelah puas menghajar, kedua preman tersebut meninggalkan pria tadi yang tergeletak di trotoar tanpa ada yang mempedulikan. Rafi yang dari tadi ketakutan dan bersembunyi di balik semak-semak keluar dan merasa iba kepada pria tadi. Diputuskannya untuk menolong, tapi bagaimana caranya?bukankah tangan kecil Rafi tidak mampu untuk membopong pria bertubuh kekar tersebut.
Akhirnya Rafi memutuskan untuk mendekati pria tersebut
“om-om bangun om, om gak papa?’’ Tanya Rafi sambil mencolek-colek badannya
“ia, gak papa, kamu siapa?”kata om sambil terengah-engah menahan luka disekujur tubuhnya
“aku Rafi om, om siapa?om kenapa?”
“om Lukas, om gak papa, bantu om berdiri ya”
“ia om”
Singkat cerita Rafi bercerita kepada om Lukas bahwa dirinya lupa jalan pulang. Lukas bertanya dimana alamat Rafi tetapi Rafi sendiri tidak tau alamat rumahnya. Tetapi sewaktu om Lukas bertanya tentang daerah dimana Rafi tinggal. Rafi menjelaskan bahwa dia tinggal di daerah deket taman kota. Rafi juga bilang dia tinggal dirumah yang besar tanpa tetangga. Karena kiri kanan rumah Rafi perkebunan luas milik papa Rafi, yang ada hanya beberapa kampung tepat di belakang rumah Rafi.
Setelah mendengar penuturan Rafi om Lukas terkejut sejenak lalu terdiam, teringat kenangan pait beberapa taun silam. Dimana dia dan istrinya Sarah bekerja di perkebunan kopi milik bapak Rafi, suasana yang nyaman, hidup yang harmonis, dan terenggut paksa oleh seorang lintah darat yang sangat menyukai Sarah. Ayah ibu Sarah yang sangat miskin terpaksa harus merelakan anaknya untuk dijadikan gundik demi sejumlah uang. Lukas tidak berdaya, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya api dendam yang membara di hatinya. Apalagi ketika itu Sarah tengah hamil muda.
“om,om. Gimana?jadi nganterin Rafi pulang gak om”suara memelas Rafi membuyarkan lamunan Lukas
“ia, dulu om pernah kerja disitu, om kenal ama papa kamu”Lukas menatap Rafi lama sekali, hatinya seakan teriris-iris.Apakah ini?ah sudahlah lupakan
“wah kebetulan banget om”lagi-lagi ocehan Rafi membuyarkan lamunannya
“ayo om antar pulang, kita naek angkot aja biar cepet. Tapi om mau bersihkan muka dulu di sungai belakang, kamu tunggu sini ya”
“ia om”sahut Rafi lega
****
Lukas memendam dendamnya lama, dia sangat mencintai Sarah melebihi apapun, dan dia membenci dirinya karena tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sangat sakit hati tatkala melihat Junaidi (nama lintah darat tersebut) membawa Sarah jalan-jalan keliling kampung sambil tertawa-tawa bahagia. Diseretnya Sarah yang tengah hamil dan Sarah hanya tersenyum kecut saat berpapasan dengan Lukas. Dilihatnya bekas memar diseluruh wajah Sarah. Lukas geram dan seperti biasa tidak bisa berbuat apa-apa.
***
“kiri pak” kata Lukas saat angkot yang dinaikinya memasuki kawasan asri, tempat rumah Rafi tinggal
“ia om, bener ini rumah Rafi om”
Disepanjang perjalanan menuju rumahnya, Rafi tak segan-segan berlari menuju rumahnya. Lukas yang mengikutinya dari belakang hanya tersenyum tipis sambil mengenang masa lalunya.
Sampe dirumah mama Rafi yang sedari tadi cemas memikirkan nasib Rafi langsung memeluk dan mencium Rafi secara bertubi-tubi “dari mana aja kamu nak, bikin mama khawatir, tapi syukurlah kamu gak apa-apa”
“Rafi diantarkan om itu ma”
Papa Rafi langsung terbelalak melihat orang yang mengantarkan Rafi
“Lukas??”pekik papa Rafi “bukannya kamu sudah mati?”
Mama Rafi juga keliatan sangat terkejut melihat sosok yang ada didepannya
“ia Pak, saya masih hidup”
“bagaimana bisa?”
_bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar