Jumat, 17 Juni 2011

kepergian Rafi part 4 (last part)

Seuasana di ruang keluarga sunyi senyap bercampur tegang. Sarah dan Lukas saling menggenggam tangan. Pak Bram juga tidak bisa menahan kesedihannya, juga rasa ketakutannya. Sebenarnya dia takut kehilangan Rafi, anak yang sejak kecil diasuhnya, meskipun Rafi sangat bandel, nakal dan sombong. Bu Bram dan Rafi tiba di ruang keluarga dan duduk di kursi kosong. Tidak ada yang mau membuka percakapan. Lukas menatap Pak Bram seolah menyuruh Pak Bram yang menjelaskan. Sarah hanya diam dan cemas, Bu Bram kembali menyeka air matanya. Setelah sekian menit hening, akhirnya Pak Bram membuka percakapan.

“begini..”

Pak Bram mendesah sulit mengatakannya “Rafi, sebenarnya papa dan mamamu , ituu..”

“Rafi sudah tau”ucap Rafi lirih memotong perkataan papanya “om Lukas da kak Lia (Sarah)itu adalah orang tua kandung Rafi, Rafi mendengarnya semalem, terus kenapa?apa karena papa bukan orang tua kandung Rafi lantas papa mau menyuruh Rafi pergi dari sini?apa papa mau kalo Rafi tinggal ama mereka??”

“bukan gitu maksud kami Rafi”Sarah memotong perkataan Rafi

“kami sayang Rafi dan kami ingin yang terbaik buat kamu. Kakak Lia tau kalau Rafi gak pernah suka sama kakak, kakak gak bisa jadi ibu yang baik, kakak gak bisa memberikan apa yang Rafi pingin, kakak juga gak bisa menyekolahkan Rafi di SMP mahal, kakak gak bisa ngajak jalan-jalan Rafi waktu libur sekolah, kakak gak bisa bahagiain Rafi. Kakak Cuma seneng kalo Rafi bisa baik sama kakak, ceria waktu ketemu kakak..”air mata Sarah tumpah

“om gak mengharapkan Rafi mau ikut kami, dan om emang gak ada niatan buat gitu, om cuma seneng kalo Rafi tau kenyataannya. Apalagi Rafi mau memanggil kami mama dan papa seperti yang Rafi panggil ke Pak Bram dan Bu Bram, om tau Rafi kaget, begitu pun kami, kami gak akan mengambil Rafi Bu,Pak, Bapak dan Ibu sangat cocok untuk menjadi orang tua Rafi, Bapak dan Ibu juga sangat saying kepada Rafi, bagaimana bisa kami mengambil Rafi dari kalian”Lukas berusaha menahan air matanya

Rafi terisak-isak dipelukan Bu Bram.

****
Beberapa hari kemudian Lukas dan Sarah pamit. mereka berencana memulai kehidupan baru ditempat lain. Meskipun mereka masih tidak tau kemana, tetapi mereka yakin, kebahagiaan pasti akan datang. Bu Bram dan Pak Bram tidak bisa mencegah, mereka hanya bisa memberi sangu ala kadarnya tetapi langsung ditolak oleh Lukas, tetapi Pak Bram memaksa dan dengan terpaksa Lukas menerima. Sarah mencari=cari Rafi tetapi Rafi tetap saja tidak mengakui mereka orang tuanya. Sedih sekali Sarah dan Lukas, malah semenjak kejadian itu Rafi tidak mau bertegur sapa dengan Lukas dan Sarah. Hal itu yang membuat mereka pergi mencari suasana baru.

“Bu Rafi mana?”Sarah tetap saja mencari Rafi
“Gak tau Sarah, mungkin di kamarnya, mau Ibu panggilkan?”
“oh gak usah ibu, tolong bilangkan sampai kapanpun kami sayang Rafi”
“ia pasti saya sampaikan”

Setelah selesai pamitan Lukas dan Sarah beranjak pergi. Pak Bram dan Bu Bram mengantar kepergian mereka dengan derai air mata, begitu pula Sarah dan Lukas..Mereka berjalan pelan seakan-akan tidak mau meninggalkan kenangan-kenangan lama yang indah, Sarah sesekali melihat ke belakang. Lukas tersenyum pada Sarah dan mereka mulai berjalan pasti.

Tiba-tiba dari belakang seorang anak kecil berlari menghampiri mereka sambil berteriak “mamaaaaaaaaaaaaa,,papaaaaaaaaaaaa tunggguuuuuuuuuu”

Sarah berhenti berjalan, detak jantungnya berjalan keras, kebahagiaan menyelimuti wajahnya. Sarah menoleh,Lukas menoleh. Dilihatnya Rafi berlari menghambur ke pelukannya Sarah dan Lukas.

“ma…paa maafin Rafi maafin Rafi, jangan pergi, jangan pergi tanpa Rafi”

Lukas menatap Rafi tidak percaya, apalagi Sarah, tangannya menepuk lembut punggung Rafi yang berada di pelukannya, penuh sayang.

“Rafi mau ikut kalian”

Sarah menangis bahagia mereka bertiga berpelukan, sangat bahagia.

Bu Bram dan Pak Bram yang menyusul Rafi dari belakang juga sangat terkejut atas keputusan Rafi yang tiba-tiba. Bu Bram pingsan.
****
Lukas dan Sarah menunda kepergiannya, kini Bu Bram sudah sadar dari pingsannya. Rafi memeluk Bu Bram dengan sayang. Rafi mencintai kedua mamanya. Rafi bingung, Rafi gundah.Rafi ingin bersama keduanya. Rafi berjanji akan jadi anak baik asalkan keempat orang tuanya selalu ada disisinya.

Pak Bram meminta agar Lukas bekerja bersamanya di perkebunan, dan Sarah tetap sebagai guru ngaji. Sehingga mereka tidak kehilangan Rafi begitu pula sebaliknya. Setelah berunding dengan Sarah akhirnya mereka berdua setuju. Mereka menanggap hal itu adalah ide bagus. Bu Bram juga sangat bahagia begitu pula Rafi.

Kini mereka ber empat hidup bahagia. Kadang Rafi tinggal bersama mama papa Bram, kadang pula tinggal bersama mama Sarah dan papa Lukas. Ini menjadi sebuah keuntungan karena Rafi selalu mendapat uang saku doble. Rafi juga menepati janjinya dengan jadi anak baik dan tidak membeda-bedakan teman, sehingga sekarang teman Rafi ada banyak. Semua teman sangat menyukai Rafi karena Rafi gemar menolong. Yang Rafi paham sekarang adalah hidup itu bagaikan roda yang berputar, kadang ada di atas, kadang pula ada dibawah. Tinggal bagaimana kita mensyukurinya..

-chatyEdonanta-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar