Selasa, 07 Juni 2011

penyesalan yang terlambat

Ata dan Gading menikah karena dijodohkan orang tuanya, tetapi bagaimanapun Gading dan Ata sudah saling mencintai karena mereka berdua sama-sama belum pernah pacaran. Selang 2 tahun menikah mereka dikaruniai seorang anak yang sangat lucu bernama cisa.

Cisa sangat pintar yang membuat gading dan ata sangat bahagia dan tidak ada alasan lain untuk saling bertengkar satu sama lain. Setiap pagi gading mencuci mobil dan ata membersihkan rumah sambil menjaga cisa yang sudah bisa merangkak dan barjalan sedikit-sedikit. Kebahagiaan mereka terpampang jelas. Gading mulai memanasi mobil dan ata sedang ke dapur untuk membalik tempe yang sedang digorengnya.

Gading memindahkan mobilnya ke garasi dan ketika sedang atret terdengar suara kreeesss. Gading seperti melindas sesuatu…
Dan terdengar jeritan pilu cisa. Gading pucat dan panik. Dadanya bergemuruh keras takut kalau apa yang ditakutkan terjadi.. dengan bergegas dia memeriksa dan dikejutkan oleh suara ata

“Cisaaaaaaaaaaaaaaaa”kemudian ata pingsan

Gading melihat Cisa sudah bersimbah darah, tubuhnya terlindas ban mobil yang dikemudikan Gading..Gading merasa dunia begitu gelap..Serentak para tetangga berbondong-bondong datang dan ikut panik

“cepat panggil ambulan”teriak beberapa tetangga.

Gading merasa lunglai lemas seketika…dia tidak sanggup berpikir apa-apa.Ata yang sudah sadar berteriak “Cisaa kenapaaaa?”

Setelah ambulan datang Cisa dilarikan di rumah sakit, Ata tak henti-hentinya menangis, sementara Gading terlihat masih syok. Tak percaya dengan apa yang terjadi.
Begitu dokter keluar dari UGD dan melihat ekspresi dokter yang kelihatan menyesal sambil geleng-geleng kepala mereka berdua menangsi histeris. Dan langsung masuk untuk memeluk cisa terakhir kalinya. Para tetangga juga menyatakan bela sungkawa sambil menghibur ata dan gading.
Tiba-tiba polisi masuk dan meminta mayat Cisa diotopsi.
Menurut polisi tindak kecelakaan harus diselesaikan secara hukum..Ata diminta sebagai saksi dan Gading sebagai pelaku. Ata yang tadinya membenci Gading sekarang merasa takut kalau Gading dituduh bersalah. Bagaimanapun juga hanya Gading yang Ata punya saat ini.
“saudara Gading kami tangkap dengan kasus membunuh saudari Cisa, walaupun kecelakaan. mari ikut kami”
“jangan Pak, kami mohon, itu hanya kecelakaan, bagaimana kami mungkin membunuh darah daging kami sendiri. Itu hanya murni kecelakaan pak. Kalau mau hukum, hukum saya saja pak yang telah lalai menjaga anak saya hingga seperti ini”Ata mulai terisak-isak. Bagi Ata ini hari yang buruk di sepanjang hidupnya. Anak kandungnya baru saja meninggal dan suaminya di penjara.

Dirumah Ata menangis terus. Setelah selesai diotopsi jenazah Cisa dikebumikan di pemakaman umum kompleks perumahan mereka. Ketika pemakaman Gading dating dengan dikawal polisi.
“maafkan aku Ata, aku yang salah, kamu boleh benci aku, kamu boleh tinggalin aku”ucap Gading dengan bibir bergetar menahan tangis
“engga mas, kita yang salah dan sampe kapanpun aku gak kan pernah ninggalin kamu mas, aku akan cari pengacara yang hebat sampe kamu dilepaskan mas. Kini hari-hariku sepi mas tanpa ada kamu maupun Cisa disamping aku, kumohon mas, mas gak boleh bilang begitu, kita harus tergar, ini namanya cobaan,kita pasti bias melewatinya”sahut Ata tegar, padahal dalam hati dia menangsi keras-keras, menangis karena nasib sudah meluluh lantakkan jiwanya.

Ata berjanji akan mencarikan pengacara terbaik Karena Gading tidak salah, mungkin sudah saatnya Cisa dipanggil Yang Maha Kuasa, pikirnya.
Atas rekomendasi dari beberapa orang temennya Ata menuju ke rumah pengacara terkenal bernama Ade. Ade berusia sepantaran Ata dengan badan tegap dan wajah tampan. Ata merasa agak grogi juga ketika Ade menyuruh Ata menceritakan kronologisnya, tetapi Ata segera menangkis pikiran groginya tatkala inget Gading yang lagi menderita di penjara.


Sidang pertama dimulai. Didatangkan saksi, tertuduh, jaksa dan pengacara.
Hakim :”saudara Gading, coba ceritakan kronologis dari kejadian tersebut”
Gading :”pagi itu seperti biasa saya mencuci mobil dan hendak memarkirnya di garasi, ketika hendak mundur saya tidak tau Cisa ada di belakang mobil saya dan terlindas”ucap Gading terbata-bata
Hakim :”kemudian dimana saudari Ata pada saat kejadian?”
Ata :”saya sedang membalik tempe didapur dan saya benar-benar tidak menduga hal itu terjadi pak hakim, mas Gading gak salah dan harusnya sayalah yang dipenjara bukannya mas Gading”Ata mulai berkaca-kaca
Ade :”benar Pak Hakim, ini hanya sebuah kecelakaan yang tidak terduga, dan bukannya kasus pemunuhan,mereka orang tua dari Cisa yang sangat menyayangi Cisa,maka tidak mungkin sekali kalau mereka membunuh anak kandung mereka sendiri”sahut Ade tenang
Suasana persidangan mulai gaduh riuh anatara pro dan kontra, tiba-tiba jaksa berseru “tidak bisa pak hakim, ini adalah masalah nyawa, dan siapapun yang menghilangkan nyawa orang lain dengan pasal 132 ayat 77 sebagaimana dijelaskan harus diberikan hukuman selayaknya”

Pak hakim keliatan manggut manggut dan berkata “sidang kami tunda 3 hari lagi”
TOK TOK TOK terdengar suara palu diketok

Ata menghampiri Gading untuk memberikan semangat dan dukungan. Gading sangat berbinar-binar melihat Ata masih tulus meskipun cobaan ini dating berturut-turut.

3 hari kemudian telah dijatuhkan keputusan Hakim bahwa Gading dijatuhi hukuman 2 tahun penjara dengan masa 3 bulan percobaan. Ata menjerit histeris kemudian ditenangkan dengan Ade. Gading keliatan tenang dan pasrah. Dia berterima kasih kepada Ade Karena kalau tidak ada Ade hukuman yang GAding dapat bisa-bisa 6 tahun penjara.
“mas aku janji bakal menjengukmu setiap hari”janji Ata bersungguh-sungguh”
“2 tahun itu cepat sayank, yang penting hati kita masih seperti dulu”sahut Gading sambil berjalan menuju mobil polisi.
Ata mengiringi kepergian Gading dengan berurai air mata “bagaimana aku harus menghabiskan waktu tanpamu mas,tanpa Cisa”ujar Ata lirih, hatinya terasa ada yang hilang, sakit dan gundah.tetapi Ata tidak menangis, air matanya telah habis dan Ata bertekad untuk bangkit,

Ata tidak bekerja,selama ini kebutuhannya dipenuhi oleh Gading, Ata mencoba membuka toko kelontong kecil-kecilan,toh kini ia hanya hidup seorang diri. Sembari bekerja di toko kelontong tak lupa pula ia senantiasa menjenguk Gading sambil membawakan kebutuhan Gading didalam penjara.

Setahun telah berlalu dan dia sudah mula jarang menjenguk suaminya itu, dia mulai sibuk mengurusi tokonya yang semakin berkembang. Dan Ata kaget waktu Ade muncul dihadapannya.
“sore Ata,lagi sibuk?”
“engga kok pak santai aja”Ata tersenyum manis
“waduh jangan panggil Pak dong,kan kita seumuran”Goda Ade
“ia deh de,ada apa tumben kesini?”
“kebetulan lagi lewat jadi mampir, dan aku punya 2 tiket melihat pertunjukkan music classic.tapi aku bingung mau ngajak sapa”
“makanya jangan kerja terus De, jadi gak punya pacar deh”ujar Ata
“kalau kamu ku ajak liat mau gak?”ade agak kikuk juga ngajaknya, soalnya Ata sudah bersuami.tapi Ata menganggapnya lain, Ata hanya menganggap teman dan akhirnya menyetujui ajakannya.

Sehabis menikmatipertunjukan musik mereka makan di sebuah resto yang lumayan mahal, Ata agak terkejut juga tetapi Ata mengannggap seolah biasa saja. Teryata Ade orangnya romantic  ya ”batin Ata, heran kok gak punya pacar.mereka berdua pun pulang dengan riang

Semenjak itu mereka berdua sering jalan dan ngobrol bareng. Nyaman juga Ata deket dengan Ade. Tak terasa telah setahun mereka berhubungan tetapi sebagai sahabat. Dan Ade mulai mengutarakan isi hatinya
“Ata jika aku mencintai kamu,kamu mau gak nikah sama aku”
“maksudmu apa De, bukankah kamu tau sebentar lagi mas Gading akan keluar dari penjara, dan aku gak mungkin menghianati mas Gading”sahut Ata lirih,hatinya mulai berkecamuk
“ia ga apa-apa aku tau”Ade memeluk Ata sebatas teman

Hari ini hari kepulangan mas Gading, Ata bergegas ke penjara dan menjemputnya, Ata juga telah memasak makanan kesukaan Gading. Tapi Ata heran melihat perangai Gading berubah, dia gampang marah dan sekarang suka membentak. Padahal dulu Gading sopan dan lembut. Mungkin kehidupan di penjara telah mengubahnya, pikir Ata. Ata mulai memaklumi dan tetap bersabar merawat GAding.komunikasi antara Ata dan Ade pun putus soalnya sekarang Gading mulai cemburu dan suka main kasar sama Ata.

Ata masih bersabar hingga suatu malam, dia melihat Gading pulang mabuk bersama seorang cewek berpakaian mini.Hatinya langsung lunglai,ternyata pengorbanan selama ini tak dianggap. Seketika itu juga Ata masuk kamar dan menangis. Besoknya Ata minta cerai, dan Gading merengek-rengek meminta maaf,tapi kali ini kesabaran Ata sudah habis.
Mereka berdua pun bercerai.

Ata yang merasa hampa seorang diri teringat pada sosok Ade, tapi kemanakah Ade, menghilang tanpa jejak,nomernya pun tidak bias dihubungi. Belum hilangan pikiran Ata tentang Ade,handponnya bergetar, “tunggu ku di taman kota 5 menit lagi”ujar nomor rahasia
Dibalas Ata “ni siapa”
Tapi hingga setengah jam tidak ada balasan,karena penasaran Ata menuju taman kota dan dilihatnya Ade dengan bunga ditangan tersenyum kepada Ata, Ade berlutut dan bertanya “wiil u marry me Ata?please”
Ata menangguk senang. Bahagia rasanya, telah menemukan kembali serpihan cinta yang telah hilang.

Pada saat pernikahan Gading juga diundang, dan tampak penyesalan di raut wajahnya, dan dia mengingat-ingat memory 2 tahun silam saat Ata, Cisa dan Gading masih jadi 1 keluarga yang bahagia.tak terasa air matanya menetes penuh sesal,tapi ia harus sportif dan mengikhlaskan yang terjadi. “semoga kamu bahagia Ata”ucapnya lirih

“Cintailah orang yang hari ini menjadi milikmu dengan tulus, sebelum dia pergi dari hidupmu, hari ini dia mungkin masih mencintaimu, tapi besok mungkin tidak ada lagi cinta untukmu dan mungkin besok kamu yang lebih mencintai dia ketika dia telah pergi dan berbahagia bersama orang lain. Jadi jangan sia-siakan cinta yang sekarang mengisi hatimu”

-chatyEdoNanta-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar